Saturday, Aug 01st

Last update:07:07:09 AM GMT

You are here:

BANGLI

Rumah Terbakar, Istri Trauma Lalu Meninggal

Surel Cetak PDF

kebakaran

BANGLI-Fajar Bali | Wayan Yasa hanya bisa meratap lesu di depan tumpukan kayu yang telah hangus. Sesekali, tanpa disadari air matanya merembes merayapi pipi. Ayah lima anak ini tak kuat menahan sesak saat mengingat betapa garang si jago merah melalap rumahnya di Banjar Luahan, Desa Belantih, Kintamani Bangli di hari Umanis Galungan 16 Juli lalu.

Kebakaran awalnya diketahui oleh tetangga bernama I Wayan Sukra  kira-kira pukul 22.30 Wita. Sukra pada saat itu hendak keluar buang air kecil. Tiba-tiba dapur sudah terbakar dan merembet ke rumah tempat tinggal. Kerugian material yang dialami Yasa berkisar puluhan juta rupiah. Memang tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini.

Namun yang membuat Wayan Yasa semakin terpukul adalah kerugian non material. Keluarga Wayan Yasa mengalami trauma berat melihat kobaran api yang begitu besar. Sementara warga banjar tidak bisa menyelamatkan rumah beserta isinya.

“Saat itu api sangat besar, warga tak kuasa memadamkannya. Memang ada kerugian material, namun yang membuat Wayan Yasa tambah terpukul adalah kerugian non materi. Sekeluarga Wayan Yasa mendadak trauma berat,” beber Nyoman Dayuh, keluarga korban saat ditemui Kamis (30/7).

Selang lima hari pasca kebakaran, lagi-lagi Yasa ditimpa masalah. Istri Wayan Yasa yakni I Wayan Cablang mengalami trauma berat hingga penyakit sesak nafasnya kumat. Cablang sempat opname di rumah sakit Bangli kemudian meninggal tanggal 27 Juli pukul 06.30 Wita. “Kehilangan rumah ditambah ditinggalkan istri membuat Yasa kian terpuruk,” papar Dayuh.

Saat ini, anak Wayan Yasa dan cucunya tinggal sementara di rumah tetangganya. Yasa tak tahu entah sampai kapan anak dan cucunya menumpang di tetangga. Pasalnya, Wayan Yasa merasa tidak mampu lagi membangun rumah seperti sebelum terbakar. Ia hanya bisa pasrah dan meminta belas kasihan pemerintah. Pasca kebakaran, Wayan Yasa memang belum mendapat santunan dan perhatian dari pemerintah. R-006

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 30 Juli 2015 21:32

Tak Punya Rumah, Supartana Numpang di Mertua

Surel Cetak PDF

BANGLI-KELUARGASUPARTANA DI TANAH KOSONG

BANGLI-Fajar Bali | Kisah hidup I Nyoman Supartana (37), warga Lingkungan/Kelurahan Kubu, Bangli dan istrinya Ni Wayan Widiasih (33) serta dua anaknya benar-benar memilukan. Supartana tak berdaya dalam jeratan kemiskinan. Ia juga tidak punya rumah. Supartana hidup berkelana, numpang sana-sini.

Supartana memang lahir dari keluarga miskin, ayahnya I Nyoman Rutin (78) juga tak berdaya. Rumah ayahnya sempat dihantam angin puting beliung, hingga kini masih menunggu bantuan perbaikan dari Pemkab Bangli. Tak ada bangunan lain yang diwarisi dari orang tuanya untuk Supartana. Makanya Supartana hidup pasrah, berkelana kesana kemari.

Ketika dikunjungi awak media Rabu (22/7), Supartana mengakui jika dirinya tak mampu membangun rumah. Tetapi dia mengaku memiliki tanah untuk tempat dibangun rumah. "Saya tak mampu membangun, untuk makan saja susah, kalau tanah untuk bangunan sih ada, kami hanya sebagai buruh serabutan dengan penghasilan amat minim", ujar Supartana.

Supartana menikah pada tahun 2007. Memang sempat tinggal bersama orang tuanya. Namun karena tak ada tempat tidur, sejak adiknya menikah, dia nekad tinggal di tempat orang lain selama 7 tahun. Dalam keadaan tak berdaya, diapun mengaku tak malu tinggal di tempat orang lain. Lalu beberapa tahun kemudian karena tempat yang dia tempati sudah diminta lagi oleh pemiliknya, maka diapun harus berpikir untuk berpindah lagi.

Saat ini Supartana tinggal di rumah mertuanya, beberapa puluh meter ke arah utara. Siapapun tentu bakal merasa tak nyaman tinggal di mertua. Tetapi keadaan yang memaksa Supartana untuk betah di mertua. Tetapi diapun terus bertanya pada dirinya sendiri sampai kapan harus hidup bersama mertua, meski mertua sangat pengertian.

Supartana bersaudara lima orang. Dua saudaranya tinggal di rumah pamannya. "Saudara-saudara saya juga tak punya rumah, mereka tinggal di rumah paman,” tambah Supartana. Supartana kini masih harus berjuang untuk memenuhi isi perut serta urusan sekolah anak-anaknya. Sebagai buruh serabutan/tak menentu, dia mengaku pendapatannya amat sulit untuk diangkakan.W-002

Bendungan Blutbut Jebol Sejak 6 Tahun

Surel Cetak PDF

bendngan jebol

BANGLI-Fajar Bali | Bendungan Blutbut yang berlokasi di Desa Peninjoan, Tembuku, sekitar 6 tahun  tidak lagi bisa memasok air ke sejumlah subak. Pasalnya  bendungan ini jebol. Jebolnya bendungan diduga akibat mutu bangunan yang sangat rendah.  Namun sayang hingga kini  bendungan ini  belum tersentuh perbaikan. Akibatnya, henktaran sawah pun kini kering. Malahan telah berubah fungsi dari lahan basah menjadi tegalan.
Perbekel Desa Peninjoan,  Dewa Nyoman Tagel, Minggu (5/7), membenarkan hal itu. Lanjut dia, bendungan ini sangat membantu pengaiaran hektaran sawah. Namun semenjak bendungan itu jebol 6 tahun silam, maka lahan yang semula bisa ditanami padi kini berubah jadi tegalan. Padahal, kalau bendungan ini diperbaiki hasil panen padi petani sangat lumayan.  “Bendungan bisa memasok air ke sejumlah subak di Desa Peninjoan,”ujarnya.
Disinggung penyebab jebolnya bendungan, dia menduga lantaran kualitas bangunan bendungan yang kurang bagus. Akibatnya  bendungan itu tidak bertahan lama. Padahal saat jebol tidak terjadi lonjakan air di lokasi. “Kondisi bendungan kini memang memprihatinkan. Beberapa bagian bendungan ini juga mulai kropos,”pungkasnya. W-002

Warga Desa Siakin Dihantui Krisis Air

Surel Cetak PDF

keran air

BANGLI-Fajar Bali | Kondisi geografis Desa Siakin, Kecamatan Kintamani Bangli terletak di perbukitan, membuat desa ini rawan kekurangan air bersih. Seperti halnya menjelang musim kemarau ini, warga setempat tengah dihantui kekurangan air bersih. “Kita sejak lama memang telah krisis air bersih. Maklum desa kita terletak diatas bukit,” ujar anggota DPRD Bangli asal Desa Siakin, Jero Made Bawa, saat ditemui Senin (22/6).
Ujar Bawa, sejatinya di Desa Siakin terdapat mata air yang cukup besar. Cuma warga Desa Siakin yang berjumlah sekitar 470 KK tidak mampu mengangkatnya karena terkendala mesin pompa. Mengingat jarak sumber air dengan desa cukup jauh mencapai 3 kilo meter. “Kami selama ini tidak bisa mengangkat air lantaran memakan biaya tinggi. Kami juga beberapa kali mengajukan permohonan namun tidak direspon pemerintah,” katanya. SUM

Air Danau Batur Kerap Naik, Produksi Bawang Nihil

Surel Cetak PDF

bawang

BANGLI-Fajar Bali | Semakin tinggi air Danau Batur, Kintamani beberapa tahun belakangan berimbas pada semakin menenggelamkan areal pertanian di sekitar danau, padahal lahan itu merupakan lahan  yang berpotensi untuk tanaman bawang putih. Dengan naiknya air danau, produksi bawang putih terus berkurang bahkan nyaris tidak ada. Hal ini karena semakin menyempitnya lahan karena tergerus air danau.  Kabid Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perhutanan Bangli, I Wayan Tagel Sujana, Minggu (21/6) mengungkapkan budidaya bawang putih ini merupakan salah satu komoditi unggulan bagi warga yang tinggal di sekitar Danau Batur.

Dia melihat sejak sekitar 10 tahun yang lalu, bidudaya bawang putih ini nyaris tidak ada akibat hilangnya lahan petani karena air danau pasang. Sebelumnya, jarak lahan pertanian dengan bibir danau mencapai 30 meter. Sekarang lahan yang masih ada sangat minim yang mengakibatkan petani enggan untuk menggarap lahan yang amat minim, lebih memilih pekerjaan lain.“Petani enggan untuk bertanam dengan areal yang sangat minim, mereka merasa tanggung untuk bertani", ujarnya.

Dijelaskan potensi pertanian bawang putih di lingkungan sekitar Danau Batur ini sebenanrnya sangat tinggi. Setahun dapat menanam empat kali. Jumlah penanaman tersebut lebih tinggi daripada jumlah penanaman di lahan persawahan yang yang hanya satu tahun sekali. “Potensinya cukup bagus, setahun dapat bertanam empat kali, kan kesempatan meraih untung cukup tinggi", ujarnya sembari mengakui kualitas bawang putih di kawasan ini memiliki daya saing. W-002

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL