Friday, Dec 09th

Last update:05:32:51 AM GMT

You are here:

BANGLI

Proyek Jalan Tingas, Baru Selesai Sudah Mengelupas

BANGLI-Proyek-Jalan-Baru-Digarap-Rusak---Copy

BANGLI-Fajar BaliProyek peningkatan jalan Tingas, Desa Yangapi, menuju Kelempung, Desa/Kecamatan Tembuku sangat disesalkan warga. Proyek baru selesai dikerjakan 3 Oktober lalu, kini sudah mengelupas di bagian permukaan. Diduga kerusakan itu akibat kadar aspal dan kualitas aspal yang sangat rendah.

Mengelupas terjadi di banyak titik. Bahkan banyak juga retak-retak permukaan berpotensi mengelupas.

Warga setempat, I Wayan Edi Korniawan kepada wartawan, Kamis (8/12) menyampaikan rasa kesalnya atas pengerjaan proyek peningkatan jalan dengan nilai Rp 499.158.000 dari APBD Bangli yang dikerjakan CV Kawan Utama itu. Baru usai dikerjakan sudah mengelupas.

“Ini proyek apaan pak, baru selesai 3 Oktober lalu sudah begini, “ujarnya menunjukkan titik kerusakan itu. Bahkan menurutnya proyek itu molor seharusnya sudah klar pertengahan September, karena dimulai 22 Juni, dengan waktu pengerjaan 90 hari kalender, mestinya sdah selesai dikerjakan antara 22 Sepetember,”ujarnya.

Dia yakini kerusakan itu kaena kadar aspal dan kualitas aspal yang rendah. Keluhan atas kualitas proyek juga datang dari warga lainnya, I Nengah Gampil. Dia juga menyayangkan kualitas proyek tersebut, senada dengan Korniawan.

“Ya kami sangat sayangkan proyek baru sebulan usai dikerjakan sudah rusak, kami harap pemerintah bisa melakukan pengawasan terhadap proyek tersebut.

Korniawan dan Gampil menuding kalau rekanan hanya semata mencari untung daripada melihat asas manfaatnya. Kalau tak demikian tidaklah mungkin proyek seumur jagung sudah hancur. Kedua sumber ini meyakini tak bakal lama lagi kerusakan terjadi lebih parah.

”Kami arap ada perbaikan dari rekanan. Ini uang rakyat kok yang digunakan, rekanan tak bisa diam dalam persoalan ini, “tambah Korniawan diamini Gampil yang juga bendahara subak Belok ini.

Korniawan menambahkan proyek itu juga meninggalkan pekerjaan mengenai pembuatan dinding penahan tanah (DPT), dimana DPT baru sebatas dilakukan pemasangan beton, namun tidak dilakukan pemelesteran. Denga demikian dia yakini DPT itu cepat hancur.

”Itu DPT proyek inklud dengan proyek jalan ini, tapi seakan ditinggalkan tak diklarkan. Semestinya diplester agar lebih kuat, itu lihat pekerjaan apaan itu, “tambah Korniawan sembari menunjukkan DPT tersebut. W-002

Senderan Jalan Provinsi Senilai Rp 10 Miliar Ambrol

Proyek-Propinsi-Jalan-Desa-Katung-Rusak-copy

BANGLI-Fajar BaliProyek senderan jalan propinsi, yakni Payangan, Ginyar menuju Batur Anyar, Kintamani Bangli, baru seumur jagung hancur lebur.

Hal ini benar-benar mengecewakan dan menjadi sorotan berbagai kalangan. Proyek bernilai sekitar Rp 10 miliar itu mulai terlihat telah rusak. Kerusakan terlihat pada bagian senderan yang mulai ambrol.

Kerusakan paling parah tampak pada ruas perbatasan Desa Banua dengan Desa Katung, tepat di dekat Pustu Desa Katung, Kintamani. Senderan ambrol disepanjang 5 meter hampir menyeret bahu jalan. Kerusakan juga terjadi dibeberapa titik.

Pihak rekanan dalam hal ini PT. Sari Sentana Arka sempat melakukan perbaikan terhadap senderan yang ambrol, namun  selang beberapa hari, kerusakan kembali terjadi.

Perbekel Desa Katung Wayan Warsana saat dihubungi Rabu (7/12), membenarkan senderan jalan propinsi yang baru selesai dikerjakan itu banyak rusak dan jebol. Dia menduga ambrolnya senderan karena rendahnya kualitas pengerjaan. Terbukti, meski hujan turun tidak begitu deras, namun senderan sudah jebol.

Lanjut Warsana, sejatinya pihak rekanan telah melakukan upaya perbaikan, namun kerena mutu pasangan sudah buruk tidak lama berselang kembali rusak. “Kita harap pihak rekanan melakukan perbaikan terhadap senderan yang jebol ini” ujarnya.

Sementara Kabid Bina Marga I Putu Wida Gunawan dikonfirmasi terpisah mengakui kalau proyek di ruas jalan Payangan-Batur Anyar ini merupakan proyek propinsi. Sejauh ini, pihaknya belum menerima laporan ada kerusakan.

“Saya baru tahu kalau jalan ini rusak saat dikonfirmasi awak media,”tegasnya. Terkait penanganan kerusakan senderan itu, jelas dia, pihaknya segera akan melakukan koordinasi dengan pihak Dinas PU Pemprop Bali. W-002

Jero Mangku Sedana Hidup Memprihatinkan

Keluarga--Jro-Mangku-Sedana

BANGLI-Fajar Bali | Jero Mangku Sedana (60) warga Dusun Kedui, Desa Tembuku, Bangli hidup memprihatinkan. Ia tak punya rumah layak huni. Bangunan yang ada justru menjadi tempat tidur untuk sekeluarga, yakni dirinya sendiri, dua anak dan menantunya. Bangunannya kecil dan tak masuk kategori rumah sehat, karena udara basah leluasa masuk kamar.

Merekapun tidur tanpa gunakan lampu listrik, tetapi lampu tempel yang kemudian tiba-tiba mati ketika minyak tanahnya habis. Kalau gelap kadang dia gunakan lampu senter. Urusan air bersih mengandalkan air hujan ditadah menggunakan drum di halaman rumahnya. Sesekali dia membeli dari tetangganya, atau kepada truk tanki yang berkeliling.

Ketika dikunjungi, Rabu (7/12) Mangku Sedana menuturkan kalau dirinya tak punya pekerjaan apapun. Dia sudah ditinggal istrinya, Ni Nengah Nyangkih sekitar 15 tahun lalu. Mangku Sedana jujur mendapat tanah pelaba pura dari Desa Pakraman Kedui 30 are.

Tetapi lantaran usia ia tak mampu menggarap tanah. Ada tanaman berupa kakao, diakui hasilnya tak seberapa, terlebih sekarang diserang ulat.Tanah itu bukan jadi hak milik, hanya diberikan hasil garapannya. Sama sekali tak ada pendapatan. Untuk urusan isi perut dibanu anak dan menantu, yang kerjanya serabutan dan juga tak jelas pendapatannya sehari.

Jero Mangku Sedana mengaku ngayah sebagai pemangku di Pura Penataran Desa Pakraman Kedui sejak usia muda. Dengan kewajiban sebagai pemangku diapun mengaku tak sebebas umat lain.

Mangku Sedana mengakui selalu kesulitan dalam hidupnya, selain urusan isi perut juga urusan tempat tidur. Dia mengaku tidur bersama anaknya yang pertama, I Wayan Sedana sekamar. Kamar satu lagi adalah untuk tidur anaknya kedua, I Nengah Suparsa bersama istrinya Ni Nengah Didi.

Kalau saja Suparsa dan istrinya punya anak, tentu lebih berat lagi soal tempat tidur.”Anak tyang juga tak punya rumah, rumah ini sudah tua, tapi tyang tak mampu perbaiki, tyang hanya bisa memohon kepada pemerintah untuk membantu perbaikannya” ujarnya saat didampingi menantunya Ni Nengah Didi.

Bendesa Pakraman Kedui, Nengah Wiranata yang mengantar Fajar Bali ke rumah Mangku Sedana, menuturkan kalau kehidupan Jero Mangku Sedana sangat memprihatinkan.

”Dia tak punya penghasilan tetap, hanya mengandalkan dari hasil tanah pelaba pura, itupun tak seberapa karena dia sudah tak mampu bekerja, saya kasihan, mudah-mudahan pemerintah bisa membantunya”, harap Wiranata.

Dia mengakui Jero Mangku Sedana masih rajin ngayah di Pura Penataran. Sebagai abdi umat dan abdi Tuhan, demikian rajin dia ngayah, Wiranata berharap ada kepedulian dari pihak lain. ”Saya sangat kasihan, usianya semakin tua, sedangkan kehidupan anaknya juga memprihatinkan. Sedangkan menantunya Ni Nengah Didi ketika ditanya soal pekerjaannya, dia mengaku tak punya pekerjaan jelas, tetapi kerja serabutan. ”Tyang kerja serabutan, hasilnya tak seberapa”, ujar Didi dengan jujur. W-002

Tebing Longsor di Demulih Timbun Jalan

BANGLI-Longsor-Di-Desa-Demulih---Copy

BANGLI-Fajar BaliLongsor tebing setinggi kurang lebih 25 meter, di Desa Demulih, Susut, Bangli, Minggu (4/12)menimbun jalan Demulih menuju Penatahan. Menyebabkan jalur tersebut tak bisa diakses dalam tempo lama. Selain itu longsor juga menyebabkan hancurnya drainase (jaringan irigasi) dan  menyebabkan meluapnya air irigasi Subak Empelan itu sampai ke jalan. Meski demikian, krama subak baru bisa mengevakuasi, Senin (5/12) karena saat itu ada kesibukan upacara.

Krama Subak Empelan, Senin (5/12) pagi bahu membahu membersihkan jaringan irigasi yang tertimbun untuk lancarnya air sampai ke hilir. Beberapa akar dan bungkil kayu yang menutup saluran dievakuasi. Namun timbunan tanah di jalan saat itu belum dievakuasi, masyarakat menginginkan dievakuasi dengan alat berat, karena krama merasa telah kelelahan.

Sementara Kasi Kedarutan dan Logistik BPBD Bangli Ketut Agus Sutapa di sela-sela kesibukannya dalam penanggulangan longsor tersebut bersama krama subak mengatakan saat itu terjadi hujan lebat. Tebing tersebut memang rawan longsor, beberapa tahun lalu terjadi longsor juga di lahan milik I Gangsar itu. Namun kali ini longsoranya lebih dahsyat, dengan ketinggian sekitar 25 meter, dengan panjang sekitar 10 meter dan ketebalan sekitar 1 meter. Kerugian atas rusaknya senderan diperkirakan Rp. 20 juta.

Ditanya soal belum dilakukan evakuasi timbunan tanah ke badan jalan Demulih-Sala, dia mengatakan hal itu masih menunggu alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bangli. Karena kalau mengandalkan tenaga manusia akan kewalahan—di mana krama subak sudah cukup lelah mengevakuasi tanah yang menimbun jaringan irigasi.

Sementara atas rusaknya senderan dari beton yang baru usai dikerjakan itu, Kadis PU Bangli, Ida Bagus Wediatmika dihubungi terpisah mengatakan senderan yang rusak mencapai 20 meter. Kerugian Rp. 6 juta. Perbaikiannya menurutnya harus dilakukan oleh pelaksana proyek, karena proyek itu masih dalam rentang pemeliharaan sampai April 2017 nanti. W-002

Pemkab Bangli Ngaturang Bhakti Penaung Bayu

BANGLI-Persembahayangan-Penaung-Bayu-di-Pura-Batu-Madeg

BANGLI-Fajar BaliRombongan Pemerintah Kabupaten Bangli yang dipimpin Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Setda Bangli Drs. I Wayan Lawe, MM, Selasa (29/11) melaksanakan persembahyangan bersama pada puncak Karya Penaung Bayu Tilem Kalima di Pura Batu Madeg, Besakih.

Turut hadir pada karya tersebut sejumlah pimpinan SKPD di lingkungan Pemkab Bangli beserta jajarannya, Pemuka Subak dan Pekaseh seluruh Bali serta prajuru adat dan masyarakat setempat.

Prawartaka Karya Jro Mangku Widiarta pada kesempatan itu menyampaikan sekilas tentang Pura Batu Madeg sebagai Istana Bhatara Wisnu yang mempunyai fungsi dalam melindungi dan memelihara alam semesta, pencipta kemakmuran yang sangat berkaitan dengan bidang pertanian di Bali.

Dijelaskan, upacara Karya Penaung Bayu di Pura Batu Madeg yang dilaksanakan setiap tahun tepatnya pada tilem kalima memiliki makna sebagai suatu permohonan kepada Tuhan dalam manivestasi beliau sebagai Dewa Wisnu sebagai dewa kemakmuran, sekaligus sebagai peringatan kepada umat manusia agar selalu memelihara dan melindungi sumber air di seluruh Bali, sehingga para pemuka Subak dan Pekaseh se Bali turut hadir untuk dapat menyaksikan karya Penaung Bayu tersebut.

“Dengan pelaksanaan karya yang disaksikan oleh seluruh pemuka Subak dan pekaseh, diharapkan mereka selalu ingat untuk selalu menjaga dan memelihara sumber-sumber air yang ada di Bali sebagai sumber kehidupan dan kesuburan pertanian dalam arti luas” terangnya.

Disampaikan juga, Puncak Karya Penaung Bayu tahun ini menggunakan bhakti sanggar tawang meluur angkasa catur muka, sor sanggar tawang soroan baying baying kebo, caru manca sia dengan menggunakan wewalungan kebo, kambing, angsa, kucit butuan, penyu, ayam dan bebek yang dipuput oleh dua sulinggih, yakni Ida Pedanda Istri Buda Alangkajeng dari Gria Nongan Karangasem dan Ida Pedanda Manggis dari Gria Siladang, Taman Bali Bangli. 

Sebagai rangkaian upakara pada puncak Karya Penaung Bayu juga ditampilkan tari topeng sidekarya, rejang dewa dan wayang gedog.

Sementara itu Asisten I Sekda Bangli Wayan Lawe pada kesempatan itu menyampaikan, persembahyangan dalam Upacara Karya penaung Bayu yang jatuh pada Tilem Kalima merupakan wujud srada bakti kepada Ida Bhatara Wisnu yang berstana di Pura Batu Madeng. Dengan harapan masyarakat Bali khususnya selalu diberikan keselamatan dan kesejahteraan”Melalui bhakti ini kita mohonkan kehadapan Ida Bhatara Wisnu semoga masyarakat Hindu Sedarma selalu diberkati dengan keselamatan dan kesejahteraan”pungkasnya. W- 002*.

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL