Friday, Aug 28th

Last update:07:57:10 AM GMT

You are here:

BANGLI

Peternakan Simantri Keluhkan Kesulitan Air

Surel Cetak PDF

DSC02319

BANGLI-Fajar Bali | Kesulitan air bersih di Bangli kini semakin menjadi-jadi, memasuki musim kemarau ini. Krisis air tidak hanya mengancam nasib warga, tetapi juga menjadi persoalan bagi peternakan Simantri. Peternakan Simantri di Desa Suter, Kintamani, misalnya belakangan ini konsumsi air untuk ternak sapi mulai berkurang. Hal ini ini berdampak pada pertumbuhan sapi yang kurang makasimal.
Ketua kelompok Simantri Desa Suter, I Nengah Nyeneng, Rabu (19/8) mengeluhkan soal kesulitan mendapatkan untuk minum sapinya, sejak beberapa bulan belakangan ini. “Sapi minum air setiap harinya sangat banyak. Sejak musim kemarau tiba, kami mulai kesulitan mendapatkan air. Kondisi ini sudah terjadi sejak dua bulan lalu,” jelasnya.
Dijelaskannya, saat ini peternakan Simantrinya memelihara 31 ekor sapi yang terdiri dari 21 ekor induk dan 10 ekor anakan. Rata-rata seekor sapi menghabiskan sekitar 20 liter air sehari. Namun akibat kesulitan air dimaksud pihaknya terpaksa mengurangi tingkat konsumsi air, meski dirinya menyadari hal tersebut berdampak bagi pertumbuhan sapinya. ”Apa boleh buat pak, memang kekurangan minum air berpengaruh bagi pertumbuhan sapi”, ujarnya.
Nyeneng menambahkan kalau sebelumnya peternak mengandalkan air hujan yang ditampung dengan bak (cubang) yang isinya 3.300 liter. Tapi karena kemarau, bak sekarang kosong. Kepada pemerintah dia berharap agar tak hanya mensuplai air buat kebutuhan masyarakat, tetapi juga untuk peternakan. Dikatakan lagi sejumlah peternak terpaksa membawa air dari rumahnya yang merupakan bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangli maupun Provinsi Bali.
Disamping itu, Kepala Desa Suter juga dikatakan turut memberikan suplai air. Padahal, air tersebut sesungguhnya digunakan untuk konsumsi masyarakat. “Beberapa peternak ada yang membawa air dari rumahnya sekitar satu jerigen. Mereka khawatir dengan sapinya kalau tidak minum,” ungkapnya. Bahkan peternak juga dihadapkan pada kesulitan pakan ternak, akibat pengaruh musim kemarau. Dikhawatirkan hal tersebut bakal berpengaruh bagi berat sapi.
Sementara itu, saat dikonfirmasi Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bangli I Wayan Sukartana membenarkan sejumlah peternak dibeberapa tempat, terutama kelompok Simantri mulai kesulitan mencari air untuk minum ternak. Atas kondisi itu, ia mengaku akan berkoordinasi secepatnya dengan BPBD Bangli dan Dinas sosial. Kedua instansi ini memiliki mobil tangki untuk mengangkut air. “Kami akan berkoordinasi secepatnya dengan Disos dan BPBD, untuk memohon bantuan pensuplaian air ke kelompok ternak,” ucapnya. W-002

Korupsi, Ketua Kelompok Tani Bina Winangun Ditahan

Surel Cetak PDF
korupsiBANGLI-Fajar Bali | Ketua Kelompok Tani Bina Winangun, Desa Batur Tengah, Kintamani, I Nyoman Juniada akhirnya ditahan oleh Kejari Bangli, Senin (10/8). Penahanan tersebut berkaitan dengan dugaan korupsi dana bantuan sosial pengembangan unit pengolahan pupuk organik (UPPO).
Dari pantauan wartawan di Kantor Kejari Bangli, Senin (10/8) pelaku sebelum dimasukkan ke dalam mobil tahanan, terlebih dahulu menjalani pemeriksaan  beberapa jam di salah satu ruangan di kejaksaan.  Sekitar pukul 14.00 wita, pelaku dengan didampingi petugas kejaksaan langsung digiring menuju mobil tahanan. Selanjutnya, tersangka dugaan korupsi dana UPPO ini langsung digiring menuju Rumah Tahanan Negara (Rutan Bangli).
Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangli  IA. K. Ratna Sari K. Dewi didampingi Kasi Pidsus  Bagus  Putra kepada wartawan mengatakan berkas perkara dari tersangka dugaan korupsi bantuan dana pengembangan unit pengolahan pupuk organik (UPPO) I Nyoman Juniada, dinilai sudah lengkap. Karenanya, pihaknya melakukan penahanan terhadap tersangka. “Kami menilai berkasnya telah lengkap, makanya dilanjutkan dengan penahanan tersangka,”kata Kajari Bangli.
Dijelaskannya,  dana yang diduga disalahgunakan tersangka bersumber dari Kementerian Pertanian melalui Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian tahun 2012.  Dimana saat itu, Kelompok Tani Bina Winangun digelontor bantuan unit pengolahan pupuk organik. Dana tersebut langsung dikeluarkan oleh pusat kepada kelompok tani dan telah disetujui oleh Dinas P3 Bangli. Sesuai petunjuk tekhnis bantuan senilai Rp 340 juta dipergunakan untuk kegiatan pengadaan sepeda motor roda tiga, kandang koloni, bak permentasi, rumah kompos dan 35 ekor sapi.
Tetapi dalam pengelolaanya, dana tersebut ternyata disalahgunakan oleh yang bersangkutan alias  melenceng dari rencana usulan kegiatan kelompok (RUKK). “Sesuai hasil audit pihak BPKP kerugian negara akibat ulah tersangkan mencapai Rp 340 juta,” kata dia. Bagus Putra menambahkan dalam pemeriksaan yang dilakukan pihaknya, tersangka Juniada mengakui semua perbuatannya.  Salah satunya, penggunaan dana Rp 25 juta, telah dimanfaatkan  untuk membayar  kredit ketahanan pangan. Dimana, tersangka mengaku memiliki hutang (kredit) Rp 83 juta.
“Sementara dana yang digunakan pembangunan sekatriat kelompok sama sekali tidak dilengkapi bukti-bukti  berupa nota maupun kwitansi.  Disamping itu, tersangka tidak pernah melibatkan anggota kelompok lain, semua dilakukan sendiri,”kata Bagus. Disinggung soal tersangka lain, kata Bagus Putra,  saat ini pihaknya baru melakukan penahanan terhadap satu tersangka. Munculnya tersangka lain sangat tergantung dari proses penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian dan fakta-fakta yang didapat persidangan nanti. “Kami target 10 hari  kasus ini bakal diserahkan ke pengadilan tindak pidana korupsi,”ujar Kajari.
Seperti di ketahui, pihak Polres Bangli dala kasus penyalahgunaan dana bansos  unit pengolah pupuk organic (UPPO) telah menetapkan dua tersangka yakni Ketua Kelompok I Nyoman Juniada. Tersangka lainnya adalah salah seorang pejabat di Pemkab Bangli berinisial IWS. W-002

Senderan Menuju Desa Terunyan Ambruk

Surel Cetak PDF

kronologi-ambrolnya-tebing-pantai-sadranan-8iOj5sv3lo

BANGLI-Fajar Bali | Senderan menuju Desa Terunyan, Kintamani ambruk(jebol), sejak beberapa bulan lalu mengakibatkan arus kendaraan terganggu. Bahkan kendaraan skala besar nyaris tak bisa lewat.Terlebih di lokasi tersebut merupakan tanjakan tajam, yang sangat berbahaya, karena dibawahnya adalah Danau Batur. 
Warga Desa Terunyan, I Made Pida ketika dimintai komenttarnya soal senderan jebol tersebut, Minggu (9/8)mengatakan jebol senderan tersebut sudah terjadi sejak 5 bulan lalu. Jebolnya senderan disebabkan oleh terjangan air bah yang maha dahsyat dari atas bukit. Memang ketika hujan, air bah yang dahsyat dari daerah atas bukanlah hal baru lagi.Sudah menjadi hal biasa saat hujan turun. Dia menyayangkan mengapa sampai dalam durasi lama jebol itu tak ada perbaikan.
Terlebih sebelumnya di atas bukit sempat terjadi kebakaran lahan, sehingga begitu hujan deras, airnya tidak ada yang menyerap. Volume tumpahan yang terlalu besar menyebabkan senderan jebol,’’paparnya.
Panjang senderan yang ambrol akibat terjangan air dari atas bukit mencapai 12 meter. Kondisi ini menyebabkan kendaraan besar takut melintasinya. Sepeda motor masih bisa lewat. “Kalau mobil jarang yang berani, karena harus membawa kendaraannya mepet ke badan bukit,tapi kalau sepeda motor bisa lewat’’imbuhnya.
Sedangkan Perbekel Terunyan, Wayan Arjana mengatakan, senderan jebol yang nyaris membuat desa tersebut terisolir sudah disampaikan ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Bangli. Responnya satu-satunya jalur darat menuju desa di seberang danau itu sudah dianggarkan. Bahkan informasi terakhir yang diterimanya, tender pembangunan senderan sudah ada pemenangnya. ‘’Pembangunan senderan akan dilakukan secepatnya. Anggarannya berasal dari dana bencana BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah),’’tegasnya. Untuk pengerjaan, pihak rekanan dikatakan sudah sempat melihat dan masih menunggu hari baik memulainya.W-002

Jelang Kemarau, Kondisi Air Bendungan Masih Mencukupi

Surel Cetak PDF

6 Tahun Bendungan Blutbut Jebol 430251

BANGLI-Fajar Bali | Kondisi  air  beberapa bendungan di Kabupaten Bangli  hingga kini debit air masih dalam  kondisi mencukupi untuk lahan yang dialiri selama ini. Hal ini tampak di  bendungan  Tangahan  Tengah , dimana  posisi air   yakni tinggi 25 cm  dengan ketinggian debit air 171 liter/ detik.
Menurut penjaga bendungan Wayan Mimpin ditemui  dilokasi bendungan ,  Minggu (2/8) mengatakan  kalau air bendungan ini  berfungsi  untuk mengaliri  lahan persawahan  yang ada di wilayah Tanggahan  Tengah  dan sekiarnya  yang  nota bene mengaliri lahan seluas  118 hektar . Menurut pria asal Dusun Penglumbaran , susut ini , walaupun di beberpa daerah  terjadi kekeringan ,  kondisi air bendungan  Tangahan Tengah  atau sering disebut  dam seganing ini  masih dalam level  aman.  “Pasokan air ke wilayah subak masih mencukupi,’’jelasnya.
Kata dia, saat  musim kemarau yang panjang akan berpengaruh terhadap ketinggian dan debit air , seperti pada musim kemarau  beberpa tahun lalau , dimana debit aiar bendungan  sempat turun.
Dia menambahakn  untuk sumber air  bendungan berasal dari beberpa mata air , seperti mata air  yeh pule, yeh bulan , pancoran galiran  dan sumber lainya .  Dlam kondisi normal keetinggia n air berkisar 22 samapi 25  dan debit air akan meningikat jika terjadi hujan . Bila terjadi hujan lebat   otomatis debit air akan naik. Agar jangan samapi air merusak  jaringan irigasi akibat derasnya air  maka  pintu air akan diatur. “Airnya otomatis jatuh ke sungai,”punkasnya. W-002

Rumah Terbakar, Istri Trauma Lalu Meninggal

Surel Cetak PDF

kebakaran

BANGLI-Fajar Bali | Wayan Yasa hanya bisa meratap lesu di depan tumpukan kayu yang telah hangus. Sesekali, tanpa disadari air matanya merembes merayapi pipi. Ayah lima anak ini tak kuat menahan sesak saat mengingat betapa garang si jago merah melalap rumahnya di Banjar Luahan, Desa Belantih, Kintamani Bangli di hari Umanis Galungan 16 Juli lalu.

Kebakaran awalnya diketahui oleh tetangga bernama I Wayan Sukra  kira-kira pukul 22.30 Wita. Sukra pada saat itu hendak keluar buang air kecil. Tiba-tiba dapur sudah terbakar dan merembet ke rumah tempat tinggal. Kerugian material yang dialami Yasa berkisar puluhan juta rupiah. Memang tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini.

Namun yang membuat Wayan Yasa semakin terpukul adalah kerugian non material. Keluarga Wayan Yasa mengalami trauma berat melihat kobaran api yang begitu besar. Sementara warga banjar tidak bisa menyelamatkan rumah beserta isinya.

“Saat itu api sangat besar, warga tak kuasa memadamkannya. Memang ada kerugian material, namun yang membuat Wayan Yasa tambah terpukul adalah kerugian non materi. Sekeluarga Wayan Yasa mendadak trauma berat,” beber Nyoman Dayuh, keluarga korban saat ditemui Kamis (30/7).

Selang lima hari pasca kebakaran, lagi-lagi Yasa ditimpa masalah. Istri Wayan Yasa yakni I Wayan Cablang mengalami trauma berat hingga penyakit sesak nafasnya kumat. Cablang sempat opname di rumah sakit Bangli kemudian meninggal tanggal 27 Juli pukul 06.30 Wita. “Kehilangan rumah ditambah ditinggalkan istri membuat Yasa kian terpuruk,” papar Dayuh.

Saat ini, anak Wayan Yasa dan cucunya tinggal sementara di rumah tetangganya. Yasa tak tahu entah sampai kapan anak dan cucunya menumpang di tetangga. Pasalnya, Wayan Yasa merasa tidak mampu lagi membangun rumah seperti sebelum terbakar. Ia hanya bisa pasrah dan meminta belas kasihan pemerintah. Pasca kebakaran, Wayan Yasa memang belum mendapat santunan dan perhatian dari pemerintah. R-006

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 30 Juli 2015 21:32

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL