Sunday, Feb 26th

Last update:07:20:07 AM GMT

You are here:

BANGLI

Dilanda Bencana Hingga Luluh Lantak, Kintamani Masih Menangis

alt

BANGLI-Fajar Bali|Bencana alam mengamuk di Kintamani, sampai kini masih membawa duka mendalam, dengan tangis dimana-mana, sejak peritiwa itu, Jumat (8/2) malam sekitar jam 02.00 dini hari. Pasalnya dari bencana tanah longsor di wilayah perbukitan ini telah membawa korban 13 orang tewas. Selain itu banyak warga kehilangan lahan pertanian, kehilangan rumah tempat tinggal akibat air bah, serta kehilangan barang berharga seperti ternak sapi, terkuburnya kendaraan, motor serta lain-lainnya.


Dipetakan 26 desa dilanda bencana. Dari jumlah itu 15 desa terkatagori rawan longsor (zona merah).Kini korban-korban yang kehilangan tempat tinggal hidup di tenda-tenda, sehingga mereka belum bisa menahan tangis kesedihan .Korban logsor di Dusun Bantas, Songan, Kintamani menelan 7 orang, longsor di Desa Awan , 4 korban jiwa. Dan di Desa Subaya, serta Desa Sukawana masing-masing 1 jiwa. Jumlah korban jiwa sejak kejadian longsor, Kamis malam (9/2) hingga Minggu (12/2) berjumlah 13 orang. Mayat-mayat warga di Songan dijejer di sebuah tenda pengungsian yang disiapkan BNPB, dekat kuburan desa pakraman setempat. Rencana mayat tersebut bakal dikubur, Senin (13/2).Namun penguburan mayat di tempat lain belum jelas waktunya.


Berbagai pihak yang terkait turun ke lokasi tergabung dalam tim tanggap bencana yang dikoordinir BNPB dan terpusat di tenda pengungsian, Dusun dalem, Songan, Kintamani. Bangli mendapat bantuan dari kabupaten Gianyar, Klungkung, dan beberapa kabupaten lainnya, juga mendapatkan penanganan dari provinsi dan pemerintah pusat. Rencana besok nyonya Menteri Koperasi dan UKM-RI , Nyonya Bintang Puspayoga turun ke lokasi-lokasi bencana. Sebelumnya Wagub Bali, I Ketut Sudikerta telah turun ke lokasi. Bahkan beliau memberikan bantuan alat berat untuk evakuasi material longsor. Sementara untuk di stok pangan di tenda-tenda untuk korban longsor di Songan, masih cukup. Tetapi untuk di Subaya, sampai Minggu (12/2) belum bisa dijangkau karena jalan putus, tetapi ketersedian pangan masih aman. Diusahakan besok, hari ini Senin (13/2) logistik dari tim penanggulangan bencana agar bisa sampai, untuk menghidari sampai stok pangan habis.


Sayangnya akibat banyak pihak yang terlibat untuk berikan bantuan serta bantuan evakuasi, kini di tenda pengungsian BNPB (di Dusun Dalem, Songan) menghadapi persoalan sempitnya jalan serta terbatasnya tempat parkir. Sehingga Polres Bangli juga kerja keras untuk mengatur arus lalulintas serta mengatur parkir kendaraan.
Bencana alam yang mengamuk di Kintamani bukan saja di Dusun Bantas, Songan, tetapi di banyak titik, yakni di Banjar Bukit Mentik, Desa Batur Selatan. Sekitar puluhan hektar lahan ditimbun lumpur menyusul air bah dan longsor dari bukit setempat, yang terjadi tengah malam. Korban, I Wayan Mustika mengatakan selain kehilangan lahan pertanian (terkubur ketinggian 1 meter lebih) juga kehilangan ternak, sapi, babi, ayam dan barang berharga lainnya. Tujuh rumah tenggelam, hingga 20 KK (20 orang jiwa) kini mengungsi ke keluarga mereka di beberapa tempat, ada di Banjar Masem, Batur Selatan, ada di tempat lainnya. Air bah saat bersamaan juga mengamuk di Dusun Yeh Mampeh, Batur Selatan, puluhan hektar lahan pertanian tenggelam dan rusak, dan 40 KK (130 jiwa)rumah rusak. Dari jumlah itu 20 KK sudah menempati tenda-tenda bantuan dari BNPB.Nengah Budiada, tokoh masyarakat di Yeh Mampeh mengatakan kini pihaknya menghadai persoalan air bersih. Belum punya penampungan air bersih. Dan tenda-tenda mengalami kebocoran, sehingga tak nyaman bagi pengungsi. Menurutnya kualitas tenda cukup baik, tetapi dari jaritan berpeluang air hujan bisa masuk. Menurutnya untuk nyamannya mesti ditumpuki terpal.Tapi air bah di Yeh Mampeh dan Bukit Mentik tak membawa korban jiwa. Warga kehilangan lahan pertanian, sedikitnya 50 hektar lahan pertanian yang ada tanaman jeruk, tomat, bunga gumitir dan mangga di Yeh Mampeh porak poranda. Namun kerugian belum bisa ditaksir. Dari pengakuan satu warga saja, yakni Nengah Landep mencapai sekitar Rp.30 juta.”Tanaman saya sudah hampir panen, kini ditimbun tanah longsor”, ujarnya.


Rumah dan lahan pertanian milik Pak Respa di Yeh Mampeh juga tenggelam. Tanaman bawangnya masih tampak seperti kolam lumpur. Untuk mengambil barang-barangnya dia menggunakan rakit yang dia buat sendiri.”Nikit yang pakai rakit kalau mau ambil barang”, ujar Respa diamini istrinya, Ni Ketut Darmisi. Tenggelamnya lahan pertanian juga terjadi di Dusun Tabu, Desa Songan. Warga setempat Putu Marna mengatakan sedikitnya ada 19 rumah diterjang air bah, lalu sekitar 30 hektar lahan terendam,, tanaman bawang busuk. Diyakini bakal gagal panen, meski nanti airnya surut, karena biji bawang sudah busuk. Dari peristiwa itu warga setempat mengungsi ke kerabatnya masing-masing.


Bencana kali ini banyak yang mengakui sangat dahsyat, masuk katagori dahsyat kedua setelah tahun 1972. Tahun 2012 terjadi air bah dan longsor diDesa belandingan, Kintamani menyebabkan korban jiwa warga Yeh mampe, Batur Selatan, bahkan mayat sampai kini tak ditemukan. bahkan kali ini banyak sekali titik longsor dan jalan putus dan hampir putus. Jalan putus terjadi di Banjar Yeh Mampeh, Batur Selatan, jalan putus menuju ke Pura Tirta Manik Mas Mampeh, dan jalan diSubaya, Siakin dan lain-lain. Sedangkan jalan hampir putus adalah jalan Penelokan – Songan, sejumlah ruas jalan di Dusun Tabu, Songan, dan Dusun Dalem, Songan serta sejumlah longsor kecil di tempat lainnya. Sedikitnya ada 50 titik longsor dari longsor ringan sampai longsor. Bahkan sampai Minggu (12/2) masyarakat masih was-was, karena masih ada poptensi longsor susulan.

Tetapi yang menjadi pusat perhatian banyak pihak adalah di Dusun Bantas, yang menelan 7 korban jiwa. Rumah-rumah warga benar-benar dikubur material longsoran dari bukit di atas hunian warga. Mobil ikut terkubur. Namun demikian dari hasil kajian Badan Geologi pusat, kawasan bukit di Dusun Bantas masih rawan.

Untuk diketahui, Bupati Bangli, I Made Gianyar saat peristiwa sedang ada di India. Rencana, Senin (13/2) balik dari sana. Sementara Wakil Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta sibuk turun ke lokasi-lokasi bencana. Wabup Sedana Arta mengatakan, untuk penanggulangan bencana ini tim tanggap darurat bencana yang diketuai Dandim 1626 Bangli sudah membahas tanggap darurat bencana, di restorant Toya Devasya, Kintamani, Minggu (12/2). Dengan harapan penanggulangan bencana itu lebih akurat, dan tepat serta cepat. Dipimpin Dandim 1626 Bangli, dengan wakilnya Kapolres Bangli, AKBP Danang Beny Kusprihandono. Ketika ditanya soal aliran bantuan pangan ke lokasi bencana, untuk Songan lanjut Sedana Arta sudah lancar, untuk korban di Desa Awan lancar, termasuk untuk korban di Sukawana serta warga yang mengungsi di Yeh Mampeh, Bukit Mentik. Hanya warga yang terisolir di Desa Subaya akibat jembatan putus yang belum bisa dibawakan logistik. Tetapi Wabup punya target hari ini (Senin,12/2) pihaknya sudah bisa menembus ke sana. “Besok kami targetkan bisa ke Subaya”, ujarnya. Ketika ditanya perlunya penggunaan helikopter untuk atasi korban di Subaya, pihaknya mengaku belum perlu menggunakan itu. Menjawab soal penaggulangan terhadap kerusakan fasilitas umum, dia mengatakan APBD Bangli sudah menganggarkan dana tak terduga Rp.1 miliar di APBD Bangli 2017. Dana itu yang digunakan untuk penanggulangan sementara, seperti misalnya memasang tanggul-taanggul pada jalan jebol dengan pasir dalam kampil. Namun untuk langkah permanen membutuhkan menurutnya perlu pendanaan lagi, dan prosenya tentu melalui tender. Kintamani, 26 desa dilanda bencana alam, dari jumlah itu 15 desa masuk daftar rawan bencana (zona merah). Makanya warga diharap waspada.


Soal kerugian material akibat bencana, dikatakan sampai kini kerugian material secara total belum bisa disajikan. Yang jelas dia berharap agar daerah yang benar-benar rawan, warganya mau pindah ke lokasi lain. Kalau tidak bakal dilakukan secara paksa. “Kami harapkan masyarakat di daerah rawan bencana mau pindah, kalau tidak bakal dilakukan secara paksa”, ujarnya. Untuk sekadar diketahui banyak penduduk di wilayah Kintamani menempati kawasan-kawasan perbukitan yang nota bena rawan bencana. Mereka terpaksa bertempat tinggal di lokasi tersebut karena faktor menggarap ladang, pelihara ternak, dan arena sudah terlampau lama tinggal disana, enggan untuk pindah ke lokasi lain.


Sementara bencana alam di Desa Siakin, Kintamani justeru luput dari rekam BPBD Banglidan pihak lain. Padahal ada dua jembatan putus akibat air bah, menyebabkan dua dusun terisolasi. Menurut tokoh setempat I Made Bawa, masyarakat terisolir, anak-anak di dus SD setempat diliburkan.”Dua jembatan yakni jembatan dari Siakin menuju menuju Dusun Metaum dan Siakin menuju Desa Pinggan. Sedangkan Siakin- Dusun Batih terjadui jalan putus.”Warga kami terisolir, mohon agar ada penanggulangan dari pihak berkompten”, ujar anggota DPRD Bangli dari PDIP ini.


Untuk diketahui korban tewas yaitu, Ni Nyoman Siman(70) di Subaya, akibat longsor , Sabtu (11/2), I Gede Sentiana (56), longsor di Songan, I Ketut Bunga (54), di Songan, Ni kadek Dini (12), di Songan, Jero Balian Resmi (34) di Songan, Jero Kadek Balian Seriasih (30), Songan , KomangAgus Putra Panti , di Songan dan Ni KetutSusun (48) di Songan, Ni Kadek Arini (25), di Desa Awan, Ni Putu Natalia (7) di Desa Awan, dan Nyoman Budiarta (45) Desa Awan, Ni Nengah Permini (40) Desa Awan, I Made Kawi (50) di Desa Sukawana. (W-002)

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 12 Februari 2017 23:08

Bangli Dikepung Longsor dan Jalan Jebol

alt

BANGLI-Fajar Bali|Jalan menuju Pura Hulun Danu Batur itu nyaris putus. Bahkan candi bentar ikut terjungkal ke jurang akibat longsor itu bersama rombong bakso milik I Sudar (warga setempat).

Longsor terjadi akibat hujan deras, menyebabkan air terbendung di titik yang agak rendah itu. Di duga genangan air itu masuk ke pori-pori tanah, hingga di bagian bawah (di bawah candi bentar) itu menjadi labil. Jebol jalan dan terjungkalnya candi menjadi tontonan gratis pagi itu.

Banyak pihak yang berkait sibuk dalam penanggulangan tersebut, yang telah ke lokasi personil dari Dinas PU Bali, Kadis PU Bangli, I Wayan Lawe beserta Kabid Bina Marga, Putu Wida Gunawan. Dan pihak kepolisian sibuk mengatur arus lalulintas agar tidak krodit.

Panjang jebol sekitar 7 meter, kesamping sekitar 4 meter. Tanah langsung hanyut ke jurang yang sangat dalam. Tersisa badan jalan hanya cukup untuk roda empat, sehingga diperlukan pengaturan lalulintas yang ekstra.

Hampir separo jalan tergerus. Bahkan masih ada potensi jebol susulan melihat dari struktur tanah yang tampak labil.

Menurut sumber setempat I Wayan Budiawan, jebol itu diperkirakan terjadi malam hari. Setahu dia pagi itu sudah melihat jalan sudah jebol serta candi di bagian timur sudah terjungkal."Kemarin tidak jebol, tapi tadi pagi sudah kedapatan jebol, kira-kira kejadiannya malam hari", ujar Budiawan.

Dia mengatakan memang sehari sebelum peristiwa itu hujan sangat lebat. Dan air menggenang di badan jalan, karena di titik itu cekung. Entah karena air itu masuk ke dalam sehingga membuat tanah di bawah candi jadi labil.

Sementara staf Dinas PU Bali, I Wayan Suandi mengatakan pihaknya pagi itu (Kamis,9/2) mendapat laporan dari mandor jalan propinsi. "Ada laporan dari mandor kami di sini, kami setiap 10 km menaruh satu orang mandor, sehingga bila ada bencana seperti ini segera kami bisa tahu", ujarnya.

Tetapi ditanya langkah penanggulangan yang bakal dirancang menurutnya belum bisa menggambarkan. Menurutnya karena di titik jebol itu ada candi bentar, maka untuk perbaikan jalan tersebut mesti dilakukan koordinasi dengan pihak desa setempat. Artinya kalau candi bentar harus tetap berdiri pada titik itu, menurutnya tentu membutuhkan model kontruksi yang kuat untuk bisa berdirinya candi kembali."Intinya kami bakal laporkan kondisi ini ke atasan kami", ujar Suandi.

Sementara Kanit Lantas Polsek Kintamani Iptu I Made Suastika menghimbau agar pengguna jalan ekstra hati-hati di jalur tersebut, karena ada jebol jalur tersebut menjadi rawan. Dikatakan pihaknya tak bisa mengalihkan arus, meski kepadatan semakin bertambah. Dia khawatirkan kekroditan di saat Karya Pura Hulundanu, Batur sekitar 2 bulan lagi. "Dulu tidak ada jebol, di saat karya krodit sekali, apalagi ada jebol, kami harapkan pihak berkompeten segera melakukan perbaikan jalur tersebut", ujar Suastika. Sementara Perbekel Desa Batur Selatan, I Gede Sarjana berharap agar perbaikan segera dilakukan, karena jalur tersebut jalur padat dan bakal ada karya di Pura Hulun Danu, Batur.

"Kalau tak segera diperbaiki, bakal sangat krodit bahkan akan macet total saat karya", ucapnya. Mengenai candi bentar menurutnya bakal diperbaiki, meski belum jelas kapan bakal dilakukan. Logikanya, jalan yang mesti lebih awal diperbaiki. Dikatakan candi bentar tak bakal dipindah meski sudah pernah jebol, karena ada kepercayaan masyarakat, candi mesti berdiri di sana, sebagai batas kesucian wilayah Pura Hulun Danu Batur.

"Jadi soal tempat tetap disana, tak bisa dipindah", ujarnya sembari mengatakan perbaikan hanya dilakukan pada satu bagian candi, bukan ke duanya. Untuk diketahui sejak dua hari, ada belasan titik bencana tanah longsor dan jalan jebol. Seperti di Desa Belandingan, Yeh Mampeh dan Desa Binyan, semuanya di kecamatan Kintamani. Hal itu membuat instansi terkait seperti BPBD Bangli kerja keras hingga malam. Sedangkan akibat angin kencang, juga terjadi pohon tumbang di beberapa titik, termasuk di Desa Pengelumbaran, Susut yang menimpa siswa SMP seperti yang diberitakan Fajar Bali sebelumnya. W-002

Songan Diterjang Banjir Bandang

lahan-pertanian-terendam---banjir

BANGLI-Fajar Bali | Bencana alam di Bangli sangat dahsyat. Sebut saja banjir bandang di wilayah Yeh Mampeh, Batur, Kintamani, Rabu (8/2) sekitar pk.22.00 dini hari menenggelamkan puluhan hektar lahan pertanian. Selain itu, truk galian c yang biasa melintas di jalur tersebut (jalur Culali-Yeh Mampeh dan Songan) sempat macet total, karena tertimbun pasir dan kerikil.
Namun karena kesigapan petugas BPBD, Dinas PU dibantu masyarakat setempat, kemacetan tidak berlangsung lama. Timbunan pasir dan kerikil segera ditanggulangi.
Ketut Redana salah seorang warga Yeh Mampeh saat ditemui, Rabu (8/2) mengatakan, hujan deras yang mengguyur wilayah Kintamani sejak pukul 15.00, mengakibatkan kiriman air dari dua sungai yakni Sungai Melilit dan Ampah Anti ke wilayah Yeh Mampeh melimpah. Akibatnya, volume air di Yeh Mampeh terus naik hingga merendam pemukiman warga serta lahan pertanian seluas 25 hektar. Akibatnya tanaman holtikultura seperti bawang, cabai, kol dan bunga gumitir baik yang baru ditanam maupun yang sudah siap panen teredam air disertai lumpur.
“Banjir kali ini lebih parah bila dibandingkan banjir lima tahun silam,”ujar mantan anggota dewan itu.
Mantan anggota DPRD Bangli dari Demokrat ini lanjut mengatakan, banjir yang terjadi kemarin tidak sampai memakan korban jiwa. Namun kerugian akibat terendamnya tanaman petani oleh air diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Selain itu, lanjut Redana, warga yang menempati dataran rendah terpaksa mengungsi ke wilayah lebih tinggi. “Warga telah melakukan antisipasi dengan mengungsikan ternaknya agar kerugian lebih besar bisa dihindari,”jelasnya.
Sementara Kabid Bina Marga Dinas PU Bangli I Putu Wida Gunawan membenarkan akibat banjir bandang yang terjadi Rabu (7/2) sekitar pukul 22.00, mengakibatkan jalur Culali-Desa Songan, tepatnya di dekat Pura Emas Mampeh sempat putus.
Jalan sepanjang 25 meter tertimbun material sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. “Untuk menyingkirkan material pasir dan batu kami kerahkan alat berat. Kini kendaraan truk yang sempat macet sudah bisa berjalan meski harus pelan-pelan,”jelasnya.
Sementara Kadishub Bangli I Gede Arta dikonfirmasi terpisah mengakui akibat tertimbun jalur Culali-Yeh Mampeh oleh material yang dibawa banjir, sempat mengakibatkan kemacetan. Namun kemacetan itu tidak lama, karena alat berat dinas PU telah diturunkan. Selain itu, warga juga proaktif untuk membantu mengevakuasi material. “Memang tadi pagi sempat macet,”akunya.
Lanjut pria asal Desa Songan itu, meski jalur yang dilintasi truk Galian C sempat putus, namun pihaknya bersama pihak Polres Bangli tidak sampai mengalihkan jalur truk. Malahan, saat ada truk melanggar jalur langsung ditilang pihak Polres Bangli.
“Akibat melanggar jalur tadi tiga truk kena tilang,”jelas Gede Arta.
Terjangan banjir bandang juga menimpa s rumah penduduk di Desa Songan B, Kintamani. Akibatnya rumah penduduk yang berada di dataran rendah tertimbun material setinggi satu meter. Tidak hanya itu, saja material kiriman itu juga mengakibatkan jalan menuju Pura Hulun Danu Batur, Desa Songan tertimbun pasir dan batu.
Petugas BPBD, dibantu warga serta petugas kepolisan masih sibuk membantu membersihkan rumah warga dari material. “Kita saat ini masih di lapangan untuk menyingkirkan material,”ujar Kasi Kedaruratan dan logistik BPBD Bangli I Ketut Agus Sutapa. W-002

Danau Batur Mengalami Pendangkalan 7,5 Meter

batur

BANGLI-Fajar Bali | Persoalan Danau Batur, Kintamani sangat krusial. Danau terbesar di Bali ini telah mengalami pendangkalan 7,8 m sejak 37 tahun lalu, dengan pengurangan volume air mencapai 127,71 m3 serta dengan laju sedimentasi 0,21 m. Demikian terungkap dalam acara pertemuan pemulihan Danau Batur, di Kantor Bupati Bangli, Selasa (7/2).
Atas persoalan tersebut, Danau Batur dibedah dalam acara tersebut oleh pemerintah pusat, Pemprov Bali dan Pemkab Bangli. Hadir Kapus P3E Bali-Nusra Dirjen PDASHL KLHK, diwakili Harmono Sigit (selaku Direktur PKPD).
Dalam pemaparannya Sigit Harmono mengatakan soal langkah yang telah dilakukan buat Danau Batur tahun 2016 yakni rehabilitasi daerah tangkapan air (DTA) seluas 40 hektar dan kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar danau oleh Ditjen Kehutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (KLHK). Rinciannya rehabilitasi DTA berupa pemeliharaan tanaman seluas 40 hektar, dan rehabilitasi DTA berikutnya 50 hektar, pengukuran kualitas air Danau Batur, pembelian perahu pembersih eceng gondok 2 unit, pembelian alat pencacah dan mesin pengolah eceng gondok 1 unit.
Selain itu juga menerapkan paket tekhnologi “SABICITA” (sapi-biogas-Cacing Tanah-Ikan-Tanaman Organik) sebanyak 1 unit untuk alih mata pencaharian masyarakat dari danau ke darat dan mengurangi pencemaran air danau.
Sedangkan Bupati Bangli, I Made Gianyar dalam pemaparannya menyampaikan kondisi Danau Batur sampai sekarang ini. Dikatakan, danau itu sudah terjadi pendangkalan (penurunan kedalaman ) 7,8 meter sejak 37 tahun lalu. Dan penurunan volume air 127,71 m3 dan sedimentasi 0,21m.
Permasalahan yang terjadi juga pencemaran air, eutrofikasi, alih fungsi lahan dan perambahan hutan serta pemanfaatan air yang berlebihan dan penambangan galian golongan C.
Selain pemaparan secara tertulis, moderator juga meminta pendapat dan masukan dari berbagai unsur, baik dari Pemprov Bali, dan Pemkab Bangli, seperti BKSDA , Bappeda Provinsi Bali, PU Provinsi Bali, dan masukan dari kabupaten.
Sedangkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bangli, Ida Ayu Gede Yudi Sutha ketika diminta pendapat dan masukan soal masalah Danau Batur, hanya berbicara singkat meminta pemerintah dari semua tingkatan untuk melakukan langkah nyata yakni dengan action atau realisasi.
“Kami hanya menyampaikan perlunya action atau realisasi soal penanganan Danau Batur,” ujarnya.
Harapan perlunya action juga disampaikan Perbekel Songan B, Jero Lanang.”Kami berharap untuk persoalan Danau Batur agar cepat mendapatkan langkah-langkah nyata dari pusat dan seterusnya, baik menyangkut pendangkalan, pencemaran, perlunya mengangkat air untuk dikonsumsi, dan sebagainya,” ujarnya. W-002

Tergerus Longsor, Badan Jalan Tembuku-Penida Amblas

jalan-penida-jebol-6-copy

BANGLI-Fajar BaliDampak tingginya curah hujan yang terjadi sejak beberapa hari terakhir, kembali menyebabkan bencana longsor. Parahnya, kali ini bencana tersebut menyebabkan akses jalan utama diperbatasan Tembuku-Penida Kelod ambrol.

Pantauan di lokasi, Kamis (5/1), jebolnya hampir sebagian badan jalan tersebut, terjadi setelah dinding penahan tanah (DPT) yang ada dibagian barat tergerus. Tampak lubang menganga selebar hampir dua meter dengan kendalaman hampir 10 meter dari permukaan aspal.

Kondisinya semakin rawan, karena dibagian bawah jalan juga muncul kubangan besar sepanjang 15 meter yang menyebabkan jalan tersebut terancam amblas kembali.

Untuk menghindari kecelakaan lalulintas, lokasi jebolnya jalan tersebut kini telah dipasangi kampil untuk pembatas. Akibatnya, hanya sebagian badan jalan yang masih bisa dipergunakan sehingga sangat menggaggu kelancaran arus lalin.

Ditemui di lokasi, salah seoarang warga Tembuku I Nengah Suardiana menuturkan, tanda-tanda jebolnya badan jalan tersebut sejatinya telah tampak sejak sepekan lalu. Kata dia, awalnya sebagian DPT tersebut yang tergerus dan membuat sebagian jalan diatasnya amblas secara perlahan.

“Kemungkinan longsor terparah terjadi semalam dan turut menyeret badan jalan sehingga jebol,” terangnya.

Atas kondisi tersebut, warga pun mengaku khawatir dan was-was. “Kondisi tanah sekitar sangat labil. Sebagian kondisi aspal yang tersisa juga sudah retak-retak. Kalau ini tidak segera diperbaiki, kemungkinan akan menyebabkan longsor susulan dan justru akan mengancam akses jalan menjadi terputus total,” tegasnya.

Untuk itu, pihaknya kembali mendesak instansi terkait untuk segera melakukan upaya perbaikan. Terlebih, akses jalan ini merupakan jalur utama menuju ke obyek wisata Waterfall Tukad Cepung yang terkenal dengan julukan air terjun dari langit yang berlokasi di banjar Penida Kelod. W-002

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL