Monday, Sep 26th

Last update:06:27:37 AM GMT

Banner
You are here:

BANGLI

Lima Puluh Traktor di DP3 Bangli Tak Didistribusikan

BANGLI-FOTO

BANGLI-Fajar Bali | Lima puluh unit (50) alat mesin pertanian (Alsintan) berupa traktor dari berbagai merk di Kantor Dinas Pertanian Perkebunan dan Perhutanan (DP3) Bangli tidak bisa didistribusikan, karena DP3 Bangli tidak tahu siapa penerima bantuan atau yang berhak atas bantuan itu.

Bantuan tersebut sudah langsung datang dari pusat, sekitar sebulan lalu. Tetapi DP3 tidak tahu untuk kelompok mana saja traktor tersebut. Kabid Pengolahan Sarana Prasarana (Lahsarpras) Dinas P3 Bangli, Dewa Gede Sugiarta seijin Plt Kadis P3, Dra Ni Wayan Manik, kepada Fajar Bali di kantornya, Senin (19/9) ketika ditanya soal traktor tersebut dibiarkan kehujanan tak kunjung diserahkan kepada kelompok tani, dia mengatakan memang pihaknya kesulitan dalam hal mendistribusikannya. Karena bantuan tersebut bersifat langsung dari pemerintah pusat. Pihak Dinas P3 tidak tahu kelompok mana yang mengusulkan (memohon) kepada pemerintah pusat. Dinas P3 katanya tidak mendapatkan tembusan mengenai proposal (usulan bantuan) tersebut.

Karena itu pihaknya harus hati-hati mendistribusikan, agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Untuk pencairan bantuan tersebut, katanya, mesti melalui verifikasi dan penetapan kelompok tani yang bakal mendapat bantuan dimaksud agar bantuan tidak salah sasaran.

Persoalan inipin sudah disampaikan kepada Bupati Bangli, I Made Gianyar. Bupati Bangli memberi solusi yakni memanggil perbekel yang kelompok tani di desanya mendapatkan bantuan tersebut. Untuk sekadar diketahui traktor tersebut merupakan traktor skala menengah, dengan 6,5 PK. Kini kehujanan di halaman kantor DP3 Bangli. Tentu mengundang kekhawatiran bakal rusak akibat karatan. W-002

Diserang Kanker Payudara, Landri Pasrah Menunggu Uluran Tangan Para Dermawan

Ni-Nyoman-Lodri---Copy

BANGLI-Fajar Bali | Warga Banjar Penarukan, Peninjoan, Tembuku, I Nyoman Landri (45) hidup memprihatinkan. Ia yang sebelumnya dikenal sebagai pemanjat pohon kelapa kini "bertekuk lutut" di depan penyakit kanker payudara yang menyerangnya. Istri I Made Sonder (65) ini hanya bisa pasrah.

Landri kini tak lagi bisa beraktivitas sejak panyakitnya semakin mengganas. Hanya duduk-duduk di dapur dan memasak. Dia tidur di dapur yang kondisinya sudah reot. Lantainya dari tanah, beratap ilalang, berdinding bambu dan kini sudah berlubang.

Memang Landri juga punya bangunan lain (rumah mungil) tetapi sangat sederhana serta jauh dari standar rumah layak huni dan rumah sehat. Landri lebih memilih tidur di dapur, karena malas untuk pindah sana-sini dalam kondisi yang sudah tak berdaya.

Beban hidup Landri dan suaminya (Sonder) semakin berat.  Sejak enam bulan lalu, penyakit ganas berupa kanker payudara telah menggerogotinya. Kondisi terparah terjadi sejak tiga bulan lalu, dimana benjolan di dadanya malah tertusuk pelepah kelapa saat memetik kelapa, hingga benjolan pecah dan mengeluarkan darah.

"Saya dulu biasa memenjat pohon kelapa, tapi sejak benjolan kena tusukan pelepah kelapa luka dan keluar nanah, semakin hari semakin parah", ujar Landri meratapi nasibnya.

Keadaan itu mengakibatkan dirinya hanya bisa beraktivitas di rumah saja, salah satunya memasak. Itu pun terkadang harus dipaksakan. Sebab, sewaktu-waktu penyakitnya kumat. Sakit yang dirasakan menjalar sampai ke punggungnya, hingga tak lagi bisa untuk memanjat pohon kelapa, meski dirinya mengandalkan pendapatan dari situ.

Dia menuturkan kalau saat masih sehat dia mampu memanjat 40 pohon kelapa sehari. "Saya sudah biasa memanjat pohon kelapa sejak kecil", tambahnya. Mengenai pengobatannya tidak maksimal seperti halnya keluarga berduit. Lantaran terbentur dana, dia sebatas mampu berobat di dokter umum plus di dukun sesekali. Obat yang didapat diakui hanya bisa menahan sakit sesaat, kemudian kambuh lagi.

Keadaan itu akhirnya mengorbankan pendidikan bagi anak-anaknya. Anak pertamanya, Ni Wayan Astiani dan anak keduanya I Kadek Lipet juga tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Hanya berbekal ijasah SD, Astiani akhirnya harus bekerja, meburuh di Denpasar, meski hanya dengan upah antara Rp.10 ribu -Rp.20 ribu sehari. Tetapi Sonder masih harus terbabeni biaya pendidikan anaknya yang ketiga, Ni Komang Srimulih. W-002

Tak Punya Rumah,Kantra Tidur di Dapur

BANGLI-Keluarga-I-Wayan-Kantra

BANGLI-Fajar Bali | Delapan belas (18) rumah tangga miskin (RTM) di Desa Abangbatudinding, Kintamani yang diusulkan pihak desa untuk mendapat bantuan bedah rumah, sampai kini masih menjadi daftar tunggu (antri). Dari daftar itu nama I Wayan Kantra (40), warga di Dusun Klatkat, berada di bagian atas.

Wayan Kantra bersama istri dan anaknya tidur di dapur mini yang sudah dimakan usia, dan berlantai tanah, berdinding kayu, jauh dari standar rumah layak huni. Syukurlah, meski tidurnya dihempas angin, keluarga ini sementara berada dalam keadaan sehat.  

Namun suami dari Ni Wayan Kuasa (35) ini sampai kini masih menempati bangunan mini ukuran 2x2,5 meter, berdinding papan (kayu), berlantai tanah. Bangunan yang merupakan warisan orang tuanya ini sekaligus dijadikan dapur dan tempat tidur.

Dia terpaksa tidur di sana bersama istrinya serta anak satu-satunya, I Gede Adi Antara (7) yang kini duduk di kelas I sekolah dasar (SD). Meski dia sudah menggunakan aliran listrik, namun itu merupakan bantuan tetangganya yang peduli kepadanya.

Diperparah lagi oleh urusan air minum. Untuk mendapatkan air minum, Kantra harus berjalan jauh ke sungai setempat radius sekitar 1,5 km ke arah timur laut. Sesungguhnya sudah ada penjualan air dengan truk tanki, tetapi uangnya tak kesampaian untuk itu. Saat musim hujan, dia bisa senyum, karena bisa dapatkan air dari cubang milik keluarganya di halaman rumah.

Bagaimana bisa beli air kalau pendapatan mereka (suami istri) masing-masing Rp.30 ribu/hari. Ketika ditanya pekerjaannya, Kantra mengaku hanya meburuh di bengkel yang ada di desanya. Bekerja di sana-pun hanya bermodal keterampilan secara otodidak, dia hanya mengantongi ijasah SD.

“Tiang (saya) hanya dapat ongkos kerja Rp.30 ribu sehari”, ujar Kantra sambil menghelus-helus kepala anaknya yang saat itu didampingi Perbekel Abang Batudinding, I Made Diksa. Istrinya mengaku mburuh mencangkul tanah, pada tanaman jeruk tetangga, yang juga diongkos Rp. 30 ribu/hari. Itupun tidak menetap.

“Kadang saya dapat berburuh mencangkul tanah, kadang tidak”, sahut Kuasa. Dia mengaku tak berdaya dengan urusan perbaiki rumah, atau membangun rumah yang layak huni. Dia mengaku hanya bisa pasrah dan menunggu uluran tangan para yang peduli.

Ditanya soal lahan, dia mengatakan kalau lahan memang telah menjadi haknya. Untuk dibanguni bangunan tidak ada masalah. Perbekel setempat I Made Diksa mengatakan di desa ini kalau ada warga tak punya tempat bangunan, desa yang memberikan tanah (Tanah AYDS). Tanah itu boleh dibanguni bangunan, tetapi tak boleh dijual, seperti halnya I Wayan Slamet, warga miskin di dusun ini sebagaimana dimuat Fajar Bali belum lama ini.

Tetapi bagi Wayan Kantra dia sudah punya lahan warisan. Diksa mengatakan keluarga ini memang keluarga miskin yang layak untuk dapat bantuan bedah rumah. Ayahnya Nang Kantra juga terjerat kemiskinan. Namun ayahnya telah bisa mendapatkan bedah rumah beberapa tahun lalu. W-002

Fasilitas Pasar Hewan Kayuambua Rusak Berat

BANGLI-pasar-hewan2---Copy

BANGLI--Fajar Bali | Sejumlah fasilitas di Pasar Kayuambua, Desa Tiga, Susut mengalami kerusakan, bahkan kerusakan berat. Hal ini memunculkan keluhan peternak, pedagang dan pengunjung pasar dimaksud karena bisa menganggu aktivitas pedagang sekaligus pembeli.

Bahkan kerusakan sudah terjadi sejak lama, namun sampai sekarang belum ada tanda--tanda bakal ada perbaikan fasilitas dimaksud. Padahal dengan target kontribusi yang dipatok Pemkab Bangli menjadi lebih tinggi, semestinya dibarengi dengan penyediaan fasilitas yang lebih baik dan memadai.

Pantauan di lokasi, Rabu (27/7), sejumlah bangunan di Pasar Kayuambua mengalami kerusakan, seperti halnya bangunan di pos pemungutan karcis sudah rusak parah. Tampak atap bangunan hampir jatuh ke tanah. Dan atap bangunan di lokasi penimbangan sapi juga pecah akibatnya lokasi penimbangan becek. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya lantai. Lantai yang menggunakan rabat beton pecah sehingga terlibat kubangan besar dalam bangunan tersebut.Sumber di lokasi mengatakan kalau tempat penimbangan itu menjadi licin.

“Akibat kerusakan ini membuat lokasi penimbangan licin, kami khawatir saat menimbang, sapi jatuh dan mengalami patah tulang,”ujar Made Sadra, salah seorang peternak di temui di lokasi, Rabu (27/7).

Lanjut dia, kerusakan ini sejatinya telah terjadi cukup lama. Namun hingga kini Pemkab Bangli belum melakukan perbaikan. Padahal pasar Hewan Kayuambua merupa penyumbang PAD dan pusat ekonomi masyarakat khususnya peternak sapi. “Kami berharap fasilitas yang rusak ini segera diperbaiki,”pintanya.

Kadis Peternakan dan Perikanan Darat (P2) Kabupaten Bangli I Wayan Sukartana saat dikonfirmasi membenarkan kalau sejumlah fasilitas maupun bangunan di Pasar Hewan Kayuambua mengalami kerusakan. Salah satunya, adalah bangunan di lokasi penimbangan. Dimana lantai beton tersebut mulai rusak dan atap bangunan mulai bocor. “Lokasi penimbangan memang rusak dan sering dikeluhkan pedagang maupun peternak,”jelasnya.

Terkait upaya perbaikan, kata dia, pihaknya telah mengusulkannya. Namun karena keterbatasan anggaran yang ada, maka tahun 2016 ini Pasar Hewan Kayuambua belum mendapatkan anggaran. “Kami harap tahun 2017 nanti perehaban pasar ini bisa mendapatkan anggaran,’katanya. Lanjut itu, pihaknya juga akan berupaya menata areal Pasar agar lebih bersih. Karena selama ini, kesan kumuh masih melekat pada pasar.

Selain itu, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, pihaknya akan melakukan pengadaan alat timbangan. Karena alat timbangan yang ada telah tua sehingga mengundang keeganan peternak melakukan penimbangan. “Kalau lahan kosong kami akan tanaman tanaman penghijauan nanti,”tegasnya. W-002

Guru Kembali Keluhkan Ngadatnya Tunjangan Sertifikasi

b721babce1324f8e10ad81a27cc08d55

BANGLI-Fajar Bali | Guru-guru yang dikenal dengan pahlawan tanpa tanda jasa di Bangli kini mengeluh. Tunjangan sertifikasi yang mereka tunggu-tunggu dalam triwulan I dan II tahun ajaran 2016 tak kunjung mereka terima, padahal mereka sudah diminta menandatangani amprah jauh sebelumnya oleh Disdikpora setempat.

Informasi yang dihimpun di lapangan, sejumlah guru mengeluh lantaran uang tunjangan sertfikasi yang semestinya telah mereka terima selama dua triwulan tidak kunjung datang. Padahal di daerah lain tunjangan sertifikasi telah diterima oleh guru yang berhak menerima. “Kalau di daerah lain kok tunjangan itu cepat cair, tapi di sini kok tersendat-sendat, bagaimana ini”, ujar salah seorang guru yang tampak galau tanpa mau namanya ditulsi di koran ini, Selasa (19/7).

Menurutnya pihak Disdikpora Bangli hangat-hangat tahi ayam, hanya kelihatan tanggap di saat setelah persoalan muncul di media massa. Saat mencuat di koran, lanjut sumber ini pihak Disdikpora ramai-ramai turun. Namun begitu pemberitaan berlalu, malah tidak ada tindak lanjutnya. “Saat disorot di media, mereka langsung meminta pihak kepala sekolah agar guru penerima tunjangan tersebut untuk tanda tangani amprah, tapi sampai kini tak ada realisasinya”, sahut sumber lain yang juga mengeluhkan soal ngadatnya tunjangan tersebut.

Sementara Sekdis Disdikpora Bangli I Nyoman Sedana saat dikonfirmasi awak media, Selasa (19/7) tidak menampik hal itu. Kata dia, untuk guru tingkat TK dan SD, kini tengah dalam proses amprah. Sementara untuk SMP dan SMA, masih dalam tahap verifikasi. “Untuk SMP dan SMA kini tengah memasuki verifikasi, sebagian sudah ada yang selesai,”katanya. Pejabat asal Desa Sulahan, Susut ini mengatakan proses verifikasi merupakan printah pusat, untuk mendata ulang calon penerima. “Verifikasi dilakukan setiap tahun, untuk mengecek keabasahan penerima. Bisa saja mereka sebelumnya menerima, namun karena kekuarangan jam mengajar mereka tidak lagi menerimanya lagi,”ucapnya.

Mengenai mekanisme pencairan, kata mantan Kasek SMKN1 Susut ini, dilakukan per triwulan. Dimana, begitu proses verfikasi tuntas, maka tunjangan bakal langsung turun melalui rekening guru penerima. “Kami akan mengupayakan guru yang telah diverifikasi dana segera dicairkan,’’pungkasnya. W-002

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL