Thursday, Sep 01st

Last update:07:42:46 AM GMT

Banner
You are here:

BANGLI

Tak Punya Rumah,Kantra Tidur di Dapur

BANGLI-Keluarga-I-Wayan-Kantra

BANGLI-Fajar Bali | Delapan belas (18) rumah tangga miskin (RTM) di Desa Abangbatudinding, Kintamani yang diusulkan pihak desa untuk mendapat bantuan bedah rumah, sampai kini masih menjadi daftar tunggu (antri). Dari daftar itu nama I Wayan Kantra (40), warga di Dusun Klatkat, berada di bagian atas.

Wayan Kantra bersama istri dan anaknya tidur di dapur mini yang sudah dimakan usia, dan berlantai tanah, berdinding kayu, jauh dari standar rumah layak huni. Syukurlah, meski tidurnya dihempas angin, keluarga ini sementara berada dalam keadaan sehat.  

Namun suami dari Ni Wayan Kuasa (35) ini sampai kini masih menempati bangunan mini ukuran 2x2,5 meter, berdinding papan (kayu), berlantai tanah. Bangunan yang merupakan warisan orang tuanya ini sekaligus dijadikan dapur dan tempat tidur.

Dia terpaksa tidur di sana bersama istrinya serta anak satu-satunya, I Gede Adi Antara (7) yang kini duduk di kelas I sekolah dasar (SD). Meski dia sudah menggunakan aliran listrik, namun itu merupakan bantuan tetangganya yang peduli kepadanya.

Diperparah lagi oleh urusan air minum. Untuk mendapatkan air minum, Kantra harus berjalan jauh ke sungai setempat radius sekitar 1,5 km ke arah timur laut. Sesungguhnya sudah ada penjualan air dengan truk tanki, tetapi uangnya tak kesampaian untuk itu. Saat musim hujan, dia bisa senyum, karena bisa dapatkan air dari cubang milik keluarganya di halaman rumah.

Bagaimana bisa beli air kalau pendapatan mereka (suami istri) masing-masing Rp.30 ribu/hari. Ketika ditanya pekerjaannya, Kantra mengaku hanya meburuh di bengkel yang ada di desanya. Bekerja di sana-pun hanya bermodal keterampilan secara otodidak, dia hanya mengantongi ijasah SD.

“Tiang (saya) hanya dapat ongkos kerja Rp.30 ribu sehari”, ujar Kantra sambil menghelus-helus kepala anaknya yang saat itu didampingi Perbekel Abang Batudinding, I Made Diksa. Istrinya mengaku mburuh mencangkul tanah, pada tanaman jeruk tetangga, yang juga diongkos Rp. 30 ribu/hari. Itupun tidak menetap.

“Kadang saya dapat berburuh mencangkul tanah, kadang tidak”, sahut Kuasa. Dia mengaku tak berdaya dengan urusan perbaiki rumah, atau membangun rumah yang layak huni. Dia mengaku hanya bisa pasrah dan menunggu uluran tangan para yang peduli.

Ditanya soal lahan, dia mengatakan kalau lahan memang telah menjadi haknya. Untuk dibanguni bangunan tidak ada masalah. Perbekel setempat I Made Diksa mengatakan di desa ini kalau ada warga tak punya tempat bangunan, desa yang memberikan tanah (Tanah AYDS). Tanah itu boleh dibanguni bangunan, tetapi tak boleh dijual, seperti halnya I Wayan Slamet, warga miskin di dusun ini sebagaimana dimuat Fajar Bali belum lama ini.

Tetapi bagi Wayan Kantra dia sudah punya lahan warisan. Diksa mengatakan keluarga ini memang keluarga miskin yang layak untuk dapat bantuan bedah rumah. Ayahnya Nang Kantra juga terjerat kemiskinan. Namun ayahnya telah bisa mendapatkan bedah rumah beberapa tahun lalu. W-002

Fasilitas Pasar Hewan Kayuambua Rusak Berat

BANGLI-pasar-hewan2---Copy

BANGLI--Fajar Bali | Sejumlah fasilitas di Pasar Kayuambua, Desa Tiga, Susut mengalami kerusakan, bahkan kerusakan berat. Hal ini memunculkan keluhan peternak, pedagang dan pengunjung pasar dimaksud karena bisa menganggu aktivitas pedagang sekaligus pembeli.

Bahkan kerusakan sudah terjadi sejak lama, namun sampai sekarang belum ada tanda--tanda bakal ada perbaikan fasilitas dimaksud. Padahal dengan target kontribusi yang dipatok Pemkab Bangli menjadi lebih tinggi, semestinya dibarengi dengan penyediaan fasilitas yang lebih baik dan memadai.

Pantauan di lokasi, Rabu (27/7), sejumlah bangunan di Pasar Kayuambua mengalami kerusakan, seperti halnya bangunan di pos pemungutan karcis sudah rusak parah. Tampak atap bangunan hampir jatuh ke tanah. Dan atap bangunan di lokasi penimbangan sapi juga pecah akibatnya lokasi penimbangan becek. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya lantai. Lantai yang menggunakan rabat beton pecah sehingga terlibat kubangan besar dalam bangunan tersebut.Sumber di lokasi mengatakan kalau tempat penimbangan itu menjadi licin.

“Akibat kerusakan ini membuat lokasi penimbangan licin, kami khawatir saat menimbang, sapi jatuh dan mengalami patah tulang,”ujar Made Sadra, salah seorang peternak di temui di lokasi, Rabu (27/7).

Lanjut dia, kerusakan ini sejatinya telah terjadi cukup lama. Namun hingga kini Pemkab Bangli belum melakukan perbaikan. Padahal pasar Hewan Kayuambua merupa penyumbang PAD dan pusat ekonomi masyarakat khususnya peternak sapi. “Kami berharap fasilitas yang rusak ini segera diperbaiki,”pintanya.

Kadis Peternakan dan Perikanan Darat (P2) Kabupaten Bangli I Wayan Sukartana saat dikonfirmasi membenarkan kalau sejumlah fasilitas maupun bangunan di Pasar Hewan Kayuambua mengalami kerusakan. Salah satunya, adalah bangunan di lokasi penimbangan. Dimana lantai beton tersebut mulai rusak dan atap bangunan mulai bocor. “Lokasi penimbangan memang rusak dan sering dikeluhkan pedagang maupun peternak,”jelasnya.

Terkait upaya perbaikan, kata dia, pihaknya telah mengusulkannya. Namun karena keterbatasan anggaran yang ada, maka tahun 2016 ini Pasar Hewan Kayuambua belum mendapatkan anggaran. “Kami harap tahun 2017 nanti perehaban pasar ini bisa mendapatkan anggaran,’katanya. Lanjut itu, pihaknya juga akan berupaya menata areal Pasar agar lebih bersih. Karena selama ini, kesan kumuh masih melekat pada pasar.

Selain itu, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, pihaknya akan melakukan pengadaan alat timbangan. Karena alat timbangan yang ada telah tua sehingga mengundang keeganan peternak melakukan penimbangan. “Kalau lahan kosong kami akan tanaman tanaman penghijauan nanti,”tegasnya. W-002

Guru Kembali Keluhkan Ngadatnya Tunjangan Sertifikasi

b721babce1324f8e10ad81a27cc08d55

BANGLI-Fajar Bali | Guru-guru yang dikenal dengan pahlawan tanpa tanda jasa di Bangli kini mengeluh. Tunjangan sertifikasi yang mereka tunggu-tunggu dalam triwulan I dan II tahun ajaran 2016 tak kunjung mereka terima, padahal mereka sudah diminta menandatangani amprah jauh sebelumnya oleh Disdikpora setempat.

Informasi yang dihimpun di lapangan, sejumlah guru mengeluh lantaran uang tunjangan sertfikasi yang semestinya telah mereka terima selama dua triwulan tidak kunjung datang. Padahal di daerah lain tunjangan sertifikasi telah diterima oleh guru yang berhak menerima. “Kalau di daerah lain kok tunjangan itu cepat cair, tapi di sini kok tersendat-sendat, bagaimana ini”, ujar salah seorang guru yang tampak galau tanpa mau namanya ditulsi di koran ini, Selasa (19/7).

Menurutnya pihak Disdikpora Bangli hangat-hangat tahi ayam, hanya kelihatan tanggap di saat setelah persoalan muncul di media massa. Saat mencuat di koran, lanjut sumber ini pihak Disdikpora ramai-ramai turun. Namun begitu pemberitaan berlalu, malah tidak ada tindak lanjutnya. “Saat disorot di media, mereka langsung meminta pihak kepala sekolah agar guru penerima tunjangan tersebut untuk tanda tangani amprah, tapi sampai kini tak ada realisasinya”, sahut sumber lain yang juga mengeluhkan soal ngadatnya tunjangan tersebut.

Sementara Sekdis Disdikpora Bangli I Nyoman Sedana saat dikonfirmasi awak media, Selasa (19/7) tidak menampik hal itu. Kata dia, untuk guru tingkat TK dan SD, kini tengah dalam proses amprah. Sementara untuk SMP dan SMA, masih dalam tahap verifikasi. “Untuk SMP dan SMA kini tengah memasuki verifikasi, sebagian sudah ada yang selesai,”katanya. Pejabat asal Desa Sulahan, Susut ini mengatakan proses verifikasi merupakan printah pusat, untuk mendata ulang calon penerima. “Verifikasi dilakukan setiap tahun, untuk mengecek keabasahan penerima. Bisa saja mereka sebelumnya menerima, namun karena kekuarangan jam mengajar mereka tidak lagi menerimanya lagi,”ucapnya.

Mengenai mekanisme pencairan, kata mantan Kasek SMKN1 Susut ini, dilakukan per triwulan. Dimana, begitu proses verfikasi tuntas, maka tunjangan bakal langsung turun melalui rekening guru penerima. “Kami akan mengupayakan guru yang telah diverifikasi dana segera dicairkan,’’pungkasnya. W-002

Jembrana Tata Rest Area Pengeragoan

NEGARA-rencana-gambar-penataan-rest-area-di-Pengeragoan---Copy

NEGARA- Fajar Bali | Penataan rest area di tepi pantai Pengeragoan Kecamatan Pekutatan, yang dinilai cukup representatif makin dimatangkan. Lokasi Pengeragoan Pekutatan, lokasinya cukup strategis berada di jalur Denpasar Gilimanuk, memiliki view pantai yang menarik wisatawan.

Gagasan pembangunan rest area tersebut dimunculkan, melihat Jembrana merupakan jalur perlintasan kendaraan sehingga dipandang perlu memiliki rest area untuk memfasilitas kendaraan-kendaraan maupun rombongan yang melintas di jalur itu. Hal tersebut disampaikan melalui pemaparan dan presentsi DES dengan Konsultan Perencana CV Bina Bwana Wisesa di ruang rapat Bupati Jembrana, Jumat (15/7). Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan didampingi Kadis PU I Gusti Putu Merthadana serta Kepala Bappeda I Nengah Swijana.

Sesuai rencana sebelumnya, rest area Pengeragoan tersebut akan diisi bangunan di antara dua unit warung kuliner besar pada bagian tengah, area wantilan untuk menampung rombongan grup berkapasitas 200-300 orang , beberapa unit bale bengon. Selain itu juga dilengkapi dengan sarana  toilet yang bersih dan nyaman serta parkir luas sehingga mampu menampung puluhan kendaraan jenis besar semacam truk maupun bus.

Selanjutnya akan ditata dengan melakukan pemadatan lahan terlebih dahulu. Untuk menambah cantik, tempat itu akan akan ditanam beberapa tanaman hias digabungkan dengan tumbuhan eksisting yang sudah ada serta  pemasangan paving block.

Wabup Kembang juga menginginkan kawasan rest area ini dilengkapi dengan panggung hiburan guna melengkapi tempat kuliner yang ada. Panggung kecil ini menurutnya dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu untuk diisi dengan pertunjukan seni menghibur rombongan yang hadir ke Bali lewat Jembrana. Selain itu kawasan parkir juga dimintanya agar diperluas lagi.

Kalau sebelumnya dirancang hanya menampung hingga 40 truk , kini menjadi seratus. Komponen parkir yang luas dipandangnya penting dan merupakan daya tarik rest area.

Selain itu menyampaikan masukan dari Bupati Jembrana I Putu Artha sebelumnya, Kembang juga ingin unsure vegetasi lebih dominan  digunakan  menjadi pembatas  parkir bukan dari beton. “ Dengan memperbanyak vegetasi akan terasa  lebih rindang, parkir terlihat lebih luas serta perawatan juga akan lebih mudah, “tutur Kembang.

Sementara Kadis PU Jembrana I Gusti Putu Merthadana mengatakan pembangunan rest area ini akan segera dikerjakan. “ Setelah design perencanaan ini final akan segera kita tenderkan untuk tahap awal pengerjaannya senilai Rp 4 milyar,” ujarnya. W-003

Sekeluarga Tidur di Dapuberukuran 3x 2,5m

BANGLI-foto-Keluarga-Miskin

 

BANGLI-Fajar Bali | Deretan kemiskinan di Bangli seakan tak ada habisnya. I Ketut Santika (36) warga Dusun Bubung, Desa Abangbatudinding, Kintamani salah satunya. Dia bersama istrinya Ni Kadek Srienteg (34) dan anaknya, Ni Kadek Perayanti (7) harus tidur bersama dalam satu kamar kecil, yang sekaligus menjadi dapur.

Sementara anak sulungnya I Wayan Buda Darmawan (17) terkadang terpaksa numpang tidur di rumah pamannya, Jeri Ketut Cya Lantara, menanggung rasa malu untuk tidur bersama-sama dalam satu tempat.

Bangunan yang ditempati berukuran 4 x 6 meter itu masih harus dibagi menjadi dua kamar (disekat). Sebagian untuk kakaknya, dan sebagian lagi untuk dirinya satu kamar bersama istri dan anaknya. Jadi mereka tidur dan masak di satu kamar kecil. Lantainya dari tanah dan berdinding gedeg. Tentu ini jauh dari kriteria rumah layak huni. Sebab saat musim dingin lantai tanah yang terkadang lembab menjadi ancaman bagi kesehatan keluarga ini.

Ketut Santika hanya andalkan hidup sebagai buruh tukang cangkul tanah di kebun, sementara istrinya sebagai buruh tukang petik kopi. Itupun sifatnya musiman.

Dituturkan pendapatan mereka paling Rp. 60 ribu/hari. Diapun harus mengencangkan ikat pinggang, sebab dari pendapatan sebesar itu dia harus memprioritaskan biaya sekolah anaknya."Gegaen tyang meburuh, nike kadang maan kadang ten, pendapatan tyang berdua hanya Rp. 60 ribu sehari, dan ten menetap,” cetus Santika diamini istrinya saat ditemui di rumahnya, Rabu (13/7).

Bila harus menggarap tanah dia mengaku tanah yang digarapnya hanya sepuluh are itupun milik bersama. Dia hanya punya tanah di atas bangunan dapur berukuran 3x 2,5. “Tyang gak mampu apa-apa dengan kondisi seperti ini, walaupun sudah berusaha kerja namun hasilnya hanya untuk makan saja,” paparnya.

Santika berharap pemerintah iba kepadanya dan memberikan bantuan bedah rumah. “Semoga tiang bisa dapat bedah rumah,” cetusnya seraya menyebutkan hampir lima tahun terakhir tak dapat bantuan raskin sampai dia harus hutang di pasar. W-002

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 14 Juli 2016 22:49

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL