Sunday, Feb 26th

Last update:07:20:07 AM GMT

You are here:

FAJAR BALI Online

Dilanda Bencana Hingga Luluh Lantak, Kintamani Masih Menangis

alt

BANGLI-Fajar Bali|Bencana alam mengamuk di Kintamani, sampai kini masih membawa duka mendalam, dengan tangis dimana-mana, sejak peritiwa itu, Jumat (8/2) malam sekitar jam 02.00 dini hari. Pasalnya dari bencana tanah longsor di wilayah perbukitan ini telah membawa korban 13 orang tewas. Selain itu banyak warga kehilangan lahan pertanian, kehilangan rumah tempat tinggal akibat air bah, serta kehilangan barang berharga seperti ternak sapi, terkuburnya kendaraan, motor serta lain-lainnya.


Dipetakan 26 desa dilanda bencana. Dari jumlah itu 15 desa terkatagori rawan longsor (zona merah).Kini korban-korban yang kehilangan tempat tinggal hidup di tenda-tenda, sehingga mereka belum bisa menahan tangis kesedihan .Korban logsor di Dusun Bantas, Songan, Kintamani menelan 7 orang, longsor di Desa Awan , 4 korban jiwa. Dan di Desa Subaya, serta Desa Sukawana masing-masing 1 jiwa. Jumlah korban jiwa sejak kejadian longsor, Kamis malam (9/2) hingga Minggu (12/2) berjumlah 13 orang. Mayat-mayat warga di Songan dijejer di sebuah tenda pengungsian yang disiapkan BNPB, dekat kuburan desa pakraman setempat. Rencana mayat tersebut bakal dikubur, Senin (13/2).Namun penguburan mayat di tempat lain belum jelas waktunya.


Berbagai pihak yang terkait turun ke lokasi tergabung dalam tim tanggap bencana yang dikoordinir BNPB dan terpusat di tenda pengungsian, Dusun dalem, Songan, Kintamani. Bangli mendapat bantuan dari kabupaten Gianyar, Klungkung, dan beberapa kabupaten lainnya, juga mendapatkan penanganan dari provinsi dan pemerintah pusat. Rencana besok nyonya Menteri Koperasi dan UKM-RI , Nyonya Bintang Puspayoga turun ke lokasi-lokasi bencana. Sebelumnya Wagub Bali, I Ketut Sudikerta telah turun ke lokasi. Bahkan beliau memberikan bantuan alat berat untuk evakuasi material longsor. Sementara untuk di stok pangan di tenda-tenda untuk korban longsor di Songan, masih cukup. Tetapi untuk di Subaya, sampai Minggu (12/2) belum bisa dijangkau karena jalan putus, tetapi ketersedian pangan masih aman. Diusahakan besok, hari ini Senin (13/2) logistik dari tim penanggulangan bencana agar bisa sampai, untuk menghidari sampai stok pangan habis.


Sayangnya akibat banyak pihak yang terlibat untuk berikan bantuan serta bantuan evakuasi, kini di tenda pengungsian BNPB (di Dusun Dalem, Songan) menghadapi persoalan sempitnya jalan serta terbatasnya tempat parkir. Sehingga Polres Bangli juga kerja keras untuk mengatur arus lalulintas serta mengatur parkir kendaraan.
Bencana alam yang mengamuk di Kintamani bukan saja di Dusun Bantas, Songan, tetapi di banyak titik, yakni di Banjar Bukit Mentik, Desa Batur Selatan. Sekitar puluhan hektar lahan ditimbun lumpur menyusul air bah dan longsor dari bukit setempat, yang terjadi tengah malam. Korban, I Wayan Mustika mengatakan selain kehilangan lahan pertanian (terkubur ketinggian 1 meter lebih) juga kehilangan ternak, sapi, babi, ayam dan barang berharga lainnya. Tujuh rumah tenggelam, hingga 20 KK (20 orang jiwa) kini mengungsi ke keluarga mereka di beberapa tempat, ada di Banjar Masem, Batur Selatan, ada di tempat lainnya. Air bah saat bersamaan juga mengamuk di Dusun Yeh Mampeh, Batur Selatan, puluhan hektar lahan pertanian tenggelam dan rusak, dan 40 KK (130 jiwa)rumah rusak. Dari jumlah itu 20 KK sudah menempati tenda-tenda bantuan dari BNPB.Nengah Budiada, tokoh masyarakat di Yeh Mampeh mengatakan kini pihaknya menghadai persoalan air bersih. Belum punya penampungan air bersih. Dan tenda-tenda mengalami kebocoran, sehingga tak nyaman bagi pengungsi. Menurutnya kualitas tenda cukup baik, tetapi dari jaritan berpeluang air hujan bisa masuk. Menurutnya untuk nyamannya mesti ditumpuki terpal.Tapi air bah di Yeh Mampeh dan Bukit Mentik tak membawa korban jiwa. Warga kehilangan lahan pertanian, sedikitnya 50 hektar lahan pertanian yang ada tanaman jeruk, tomat, bunga gumitir dan mangga di Yeh Mampeh porak poranda. Namun kerugian belum bisa ditaksir. Dari pengakuan satu warga saja, yakni Nengah Landep mencapai sekitar Rp.30 juta.”Tanaman saya sudah hampir panen, kini ditimbun tanah longsor”, ujarnya.


Rumah dan lahan pertanian milik Pak Respa di Yeh Mampeh juga tenggelam. Tanaman bawangnya masih tampak seperti kolam lumpur. Untuk mengambil barang-barangnya dia menggunakan rakit yang dia buat sendiri.”Nikit yang pakai rakit kalau mau ambil barang”, ujar Respa diamini istrinya, Ni Ketut Darmisi. Tenggelamnya lahan pertanian juga terjadi di Dusun Tabu, Desa Songan. Warga setempat Putu Marna mengatakan sedikitnya ada 19 rumah diterjang air bah, lalu sekitar 30 hektar lahan terendam,, tanaman bawang busuk. Diyakini bakal gagal panen, meski nanti airnya surut, karena biji bawang sudah busuk. Dari peristiwa itu warga setempat mengungsi ke kerabatnya masing-masing.


Bencana kali ini banyak yang mengakui sangat dahsyat, masuk katagori dahsyat kedua setelah tahun 1972. Tahun 2012 terjadi air bah dan longsor diDesa belandingan, Kintamani menyebabkan korban jiwa warga Yeh mampe, Batur Selatan, bahkan mayat sampai kini tak ditemukan. bahkan kali ini banyak sekali titik longsor dan jalan putus dan hampir putus. Jalan putus terjadi di Banjar Yeh Mampeh, Batur Selatan, jalan putus menuju ke Pura Tirta Manik Mas Mampeh, dan jalan diSubaya, Siakin dan lain-lain. Sedangkan jalan hampir putus adalah jalan Penelokan – Songan, sejumlah ruas jalan di Dusun Tabu, Songan, dan Dusun Dalem, Songan serta sejumlah longsor kecil di tempat lainnya. Sedikitnya ada 50 titik longsor dari longsor ringan sampai longsor. Bahkan sampai Minggu (12/2) masyarakat masih was-was, karena masih ada poptensi longsor susulan.

Tetapi yang menjadi pusat perhatian banyak pihak adalah di Dusun Bantas, yang menelan 7 korban jiwa. Rumah-rumah warga benar-benar dikubur material longsoran dari bukit di atas hunian warga. Mobil ikut terkubur. Namun demikian dari hasil kajian Badan Geologi pusat, kawasan bukit di Dusun Bantas masih rawan.

Untuk diketahui, Bupati Bangli, I Made Gianyar saat peristiwa sedang ada di India. Rencana, Senin (13/2) balik dari sana. Sementara Wakil Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta sibuk turun ke lokasi-lokasi bencana. Wabup Sedana Arta mengatakan, untuk penanggulangan bencana ini tim tanggap darurat bencana yang diketuai Dandim 1626 Bangli sudah membahas tanggap darurat bencana, di restorant Toya Devasya, Kintamani, Minggu (12/2). Dengan harapan penanggulangan bencana itu lebih akurat, dan tepat serta cepat. Dipimpin Dandim 1626 Bangli, dengan wakilnya Kapolres Bangli, AKBP Danang Beny Kusprihandono. Ketika ditanya soal aliran bantuan pangan ke lokasi bencana, untuk Songan lanjut Sedana Arta sudah lancar, untuk korban di Desa Awan lancar, termasuk untuk korban di Sukawana serta warga yang mengungsi di Yeh Mampeh, Bukit Mentik. Hanya warga yang terisolir di Desa Subaya akibat jembatan putus yang belum bisa dibawakan logistik. Tetapi Wabup punya target hari ini (Senin,12/2) pihaknya sudah bisa menembus ke sana. “Besok kami targetkan bisa ke Subaya”, ujarnya. Ketika ditanya perlunya penggunaan helikopter untuk atasi korban di Subaya, pihaknya mengaku belum perlu menggunakan itu. Menjawab soal penaggulangan terhadap kerusakan fasilitas umum, dia mengatakan APBD Bangli sudah menganggarkan dana tak terduga Rp.1 miliar di APBD Bangli 2017. Dana itu yang digunakan untuk penanggulangan sementara, seperti misalnya memasang tanggul-taanggul pada jalan jebol dengan pasir dalam kampil. Namun untuk langkah permanen membutuhkan menurutnya perlu pendanaan lagi, dan prosenya tentu melalui tender. Kintamani, 26 desa dilanda bencana alam, dari jumlah itu 15 desa masuk daftar rawan bencana (zona merah). Makanya warga diharap waspada.


Soal kerugian material akibat bencana, dikatakan sampai kini kerugian material secara total belum bisa disajikan. Yang jelas dia berharap agar daerah yang benar-benar rawan, warganya mau pindah ke lokasi lain. Kalau tidak bakal dilakukan secara paksa. “Kami harapkan masyarakat di daerah rawan bencana mau pindah, kalau tidak bakal dilakukan secara paksa”, ujarnya. Untuk sekadar diketahui banyak penduduk di wilayah Kintamani menempati kawasan-kawasan perbukitan yang nota bena rawan bencana. Mereka terpaksa bertempat tinggal di lokasi tersebut karena faktor menggarap ladang, pelihara ternak, dan arena sudah terlampau lama tinggal disana, enggan untuk pindah ke lokasi lain.


Sementara bencana alam di Desa Siakin, Kintamani justeru luput dari rekam BPBD Banglidan pihak lain. Padahal ada dua jembatan putus akibat air bah, menyebabkan dua dusun terisolasi. Menurut tokoh setempat I Made Bawa, masyarakat terisolir, anak-anak di dus SD setempat diliburkan.”Dua jembatan yakni jembatan dari Siakin menuju menuju Dusun Metaum dan Siakin menuju Desa Pinggan. Sedangkan Siakin- Dusun Batih terjadui jalan putus.”Warga kami terisolir, mohon agar ada penanggulangan dari pihak berkompten”, ujar anggota DPRD Bangli dari PDIP ini.


Untuk diketahui korban tewas yaitu, Ni Nyoman Siman(70) di Subaya, akibat longsor , Sabtu (11/2), I Gede Sentiana (56), longsor di Songan, I Ketut Bunga (54), di Songan, Ni kadek Dini (12), di Songan, Jero Balian Resmi (34) di Songan, Jero Kadek Balian Seriasih (30), Songan , KomangAgus Putra Panti , di Songan dan Ni KetutSusun (48) di Songan, Ni Kadek Arini (25), di Desa Awan, Ni Putu Natalia (7) di Desa Awan, dan Nyoman Budiarta (45) Desa Awan, Ni Nengah Permini (40) Desa Awan, I Made Kawi (50) di Desa Sukawana. (W-002)

Terakhir Diperbaharui pada Minggu, 12 Februari 2017 23:08

Tradisi Kuliner Zaman Dulu Sarat Doa Harapan

cover-masakan-jawaMasakan bukan hanya sekedar hidangan untuk mengeyangkan perut. Ada cerita-cerita di balik setiap makanan dan penyajiannya yang membuatnya istimewa. Makanan memiliki makna simbolik dan tradisi yang menggambarkan lingkungan di mana makanan itu berasal. Karenanya, memasak tidak sekedar sebuah teknik mengolah makanan, namun memiliki nilai budaya yang membuatnya lebih dari sekedar rasa enak.

Lintas Kata Bali menerbitkan buku berjudul RahasiaMasakanLegendarisJawa. Buku ini berisiresep-resep dan cerita di balikmakanandalamtradisilingkungankeratonJawa. Bukuyang ditulis oleh Rr. RekiMayangsariTjitrowardojo, S.E., M.A.iniakandiluncurkantanggal 7 Juni 2015 pukul14.00 WITA di Bar Luna, Casaluna, Ubud.

Buku ini membahas beberapa jenismasakandanmaknanyadengansusunan yang disesuaikan dengansesuaisikluskehidupan, mulaidari masa kehamilan, kelahiran, pernikahan, dankematian. Makna di balikmakanan-makananitu rata-rata merupakandoadanharapanbaikdari para leluhur yang disampaikanlisansecaraturun-temurunsejak zaman dahulu kala.  Sebagai contoh yaitu sambal tumpang. Sambal ini merupakan hidangan yang disajikanpadasaatupacarasiramandalam prosesi pernikahan serta dihidangkan pula padaupacaramenstruasi. Hidanganinimerupakansimbolharapanbagi orang Jawa agar di masa depananak-anakmerekatidakberada di posisibawahtapi di atas (tumpang, bahasaJawa, dari kata temumpang yang artinyaberada di atas). Peluncuran buku ini merupakan rangkaian acara Ubud Food Festival yang diselenggarakan pada tanggal 5-7 Juni 2015. (RLS)

Pramuka Tabanan Gelar Aksi Kemanusiaan Bantu Korban Banjir Bandang Songan

alt
TABANAN–Fajar Bali|
Tragedi banjir bandang yang terjadi di beberapa titik di Bali, terutama di Desa Songan, Kintamani, Bangli mendapat simpati dari berbagai komponen masyarakat Tabanan. Salah satunya dari unsur Pramuka yang Senin (13/2) kemarin menggelar aksi kemanusiaan di empat titik di Tabanan dengan pengumpulan dana peduli umat.

Salah satu koordinator aksi yang ditemui diperempatan Jalan Pahlawan (depan Kantor Bupati Tabanan, Andrian Febrianto mengatakan bahwa tiga titik lainnya yang mennjadi tempat aksi pedulinya ini adalah di perempatan Rindam, perempatan Gerokgak dan perempatan Patung IR. Soekarno. “Masing-masing titik berkekuatan empat hingga lima anggota”, sebutnya.

Menurutnya, aksi kemanusiaan dengan mengumpulkan sumbangan sukarela dari pengguna jalan ini akan dilakukan selama dua hari. Yakni tanggal 13 dan 14 Februari 2017. Selain mengumpulkan sumbangan sukarela dengan turun ke jalan, diakuinya Pramuka Tabanan juga menggelar posko pengumpulaan sumbangan yang bertempat di sekretariat Pramuka Tabanan. Khusus untuk di posko tersebut, diterima berbagai jenis sumbangan, terutama sembako dan selimut. “Posko tersebut akan dibuka hingga hari Jumat (17/2) yang akan datang. Bagi masyarakat Tabanan yang peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di Songan pasca terjadinya banjir bandang silahkan menyalurkan bantuannya melalui kami”, jelasnya.

Terakhir Diperbaharui pada Senin, 13 Februari 2017 22:35

Kerta Gosa dan Monumen Akan Diisi Nama Obyek

Bupati Suwirta ketika meninjau persiapan pemasangan-web

SEMARAPURA-Fajar Bali|Pemkab Klungkung mengupayakan berbagai cara dan torobosan, terbukti Bupati Suwirta melakukan peninjauan ke lokasi obyek wisata terkait kelengkapan dari program city tour, salah satunya di Monumen Puputan Klungkung dan Kertagosa. Kedepan rencananya akan diisi tulisan besar “MONUMEN PUPUTAN KLUNGKUNG dan KERTAGOSA” agar nanti para wisatawan mancanegara maupun lokal saat berfoto jadi tahu nama tempat yang dipakai berfoto. Ini juga terkait dengan program City Tour yang sudah berjalan setahun terakhir.

Bupati Suwirta yang turun langsung ke lapangan didampingi Kasi Promosi pada Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung, Ketut Wikan Wiantara, Selasa (21/2) kemarin memberikan gagasan, dimana lokasi yang tepat memasang papan nama tersebut dan jenis font yang akan dipakai tulisan.

Untuk tulisan yang di monumen rencana akan dipasang di pojok tenggara bale bengong dan untuk Kertagosa tulisan yang akan dipasang di sebelah barat bale kambang. Bupati Suwirta berharap dengan adanya tulisan di Monumen dan Kertagosa, jadi karakteristik tempat wisata di Kabupaten Klungkung lebih mudah diketahui/ dikenal oleh wisatawan.


Diharapkannya tulisan atau papan nama tidak akan dipasang melekat pada Obyeknya, tetapi ditempatkan pada pagar. Hal ini agar wisatawan yang datang tidak menyentuh langsung keobjek wisata tersebut. “Ini dilakukan agar tidak cepat mengalami kerusakan dan hal-hal yang tidak diinginkan. Saya harap dengan adanya tulisan ini, nantinya wisatawan yang datang berkunjung dan berfoto akan dapat momen objek dan nama objek tersebut sehingga lebih mudah wisatawan untuk mengenali objek tersebut,” jelas Bupati Suwirta.W-010*

Kakek Tewas Tersangkut di Tali Jangkar Tepi Pantai

korban tewas ditemukan tepi pantai copy-web

NEGARA- Fajar Bali|Sarudin (80) salah seorang warga sudah lanjut usia (lansia) tinggal di Lingkungan Arum Barat Gang 3 Kelurahan Gilimanuk ditemukan tewas tersangkut di tali jangkar perahu bernama Chelsea di tepi pantai Lingkungan Asri Gilimanuk Kecamatan Melaya, Rabu (22/2) pagi. Lokasi korban ditemukan dengan bibir pantai berjarak sekitar 11,9 meter. Muslimin (58) asal Lingkungan Asih gang 5 Gilimanuk dan Siti Widodo (35) asal Lingkungan Arum Gilimanuk merupakan warrga yang menemukan pertama kali, korban sudah dalam keadaan tewas. 

Ditemukannya mayat terlilit tali jangkar tersebut, selanjutnya dilaporkan ke Polsek Kawasan Laut Gilimanuk. Tak lama, datang Bhabinkamtibmas serta beberapa anggota Polar langsung melakukan evakuasi. Selanjutnya, tim identifikasi dan dokter puskesmas II Melaya dr Lely melakukan pemeriksaan dan tak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada diri korban. Sedangkan keterangan dari pihak kekeluargaan, Mariyam (anak korban) dan Untung (menantu korban) yang hadir di lokasi kejadian, membenarkan korban merupakan ayah dan mertua mereka. Bahkan menurut mereka, korban terakhir kali ditemukan pada Selasa (21/2) malam. Selama ini korban memang pelupa dan pikun karena memang usianya sudah tua. Setelah diperiksa, jenazah korban diantar ke rumah duka dan dilakukan pemakaman siang kemarin.


Sementara, Kasat Reskrim Polres Jembrana, AKP Yusak A Sooai seizin Kapolres Jembrana kemarin membenarkan adanya penemuan. Setelah dicek, korban bernama Sarudin dan sudah tua, sehingga sering pikun, lupa pulang ke rumah. W-003

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL