JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BANGLI
Typography

BANGLI-fajarbali.com | Banyak parpol di Bangli kesulitan merekrut calon anggota legislatif (Caleg) perempuan. Kesulitan mencari Caleg perempuan malah diakui jujur parpol di Bangli, seperti Ketua DPK Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) Indonesia Bangli, I Wayan Wedana.Tak kecuali Sekretaris Partai Gerindra Kabupaten Bangli, I Made Joko Arnawa juga mengakui kesulitan mendapatkan unsur perempuan.

Namun tidak semua partai politik kesulitan mencari Caleg perempuan. Partai Golkar Bangli justru mengaku telah sangat siap dengan caleg perempuan. Ketua Harian DPD II Partai Golkar Bangli, I Nyoman Basma, Rabu (4/7/2018) mengatakan soal perekrutan caleg perempuan tak ada masalah. Sebab partai besar di Bangli ini sudah melakukan kaderisasi. ”Kami tak kesulitan mencari unsur perempuan, karena sudah kami siapkan jauh-jauh sebelumnya melalui kaderisasi,” ujar Basma.

 

 

Ketua DPC PDI Perjuangan Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta  juga mengaku tidak kesulitan merekrut Caleg perempuan, baik untuk DPRD Bangli, DPRD Bali dan DPR-RI. Banyak kalangan perempuan justru menjadi kader di PDIP dengan posisi seuai kemampuannya.Karena itu kualitas Caleg perempuanpun dijamin, sebab telah melalui penggembelengan (proses pendidikan politik) di internal, beda ketika Caleg diambil dari non kader. ”Kami tidak kesulitan caleg perempuan,” ujar Sedana Arta yang juga Wakil Bupati Bangli ini.

 

 

Ketua DPK PKP Indonesia Kabupaten Bangli, I Wayan Wedana mengatakan beberapa faktor penyebab kesulitan mencari Caleg perempuan. Dikatakan secara umum perempuan takut terjun di politik karena banyak waktu yang tersita. Selain itu faktor budaya fatrilinial berpengaruh. Dimana wanita lebih memilih bekerja di rumah atau berbisnis daripada di politik atau pada peran-peran pengambilan keputusan. Kesulitan parpol merekrut calaeg perempuan terkuat menjelang parpol mendaftarkan Bacalaeg di KPU Bangli, Rabu (4/7/2018).

 

 

Sementara Ketua KPU Bangli, Dewa Agung Gede Lidartawan, di sela-sela acara pengajuan Bacaleg, kembali menekankan bahwa parpol mesti memperhatikan kuota perempuan sesuai diisyaratkan.Jika kuota perempuan tidak terpenuhi dalam satu daerah pemilihan (Dapil), maka parpol tersebut tidak biosa ikut Pemilu di Dapil dimaksud. Dia juga mengatakan penempatan Caleg perempuan tidak boleh paling bawah. Dalam hitungan 1 sampai 3 harus ada unsure perempuannya. (sum)